SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Bojonegoro – Dampak musim kemarau memang menjadi momok menakutkan bagi sebagian masyarakat di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dalam setiap tahunnya. Karena membuat sumber air kering dan berakibat pada sulitnya warga mendapatkan kebutuhan pokok berupa air bersih.
Seperti dirasakan warga Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, dan warga Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, sejak bulan Juli hingga September.
Dua desa terdampak kekurangan air bersih ini berada disekitar Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, dan Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB).
“Sejak akhir bulan Agustus warga kami mulai merasakan kekurangan air bersih. Khususnya warga yang berada di Dusun Gledekan,” kata Kepala Desa (Kades) Mojodelik, Yuntik Rahayu, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (13/9/2018).
Kades ring satu Blok Cepu ini menjelaskan, warga di Dusun Gledekan untuk mencukupi kebutuhan air bersih bergantung pada Himpunan Pengusaha Air Minum (Hipam). Selain di Dusun Gledekan, Hipam desa ini juga ada di Dusun Mojo.
“Saat ini sumber airnya di Gledekan berkurang, tapi kalau kebutuhan air di Dusun Mojo tercukupi,” terangnya.
Untuk mengatasi kekurangan air warganya, wanita berjilbab ini telah berupaya melakukan pengeboran sumber air yang lebih dekat dari hipam, dan besar sumber mata airnya.Â
Selain itu juga mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan Konsorsium PT. Rekayasa Industri – PT. Japan Gas Corporation – PT. Japan Gas Corporation Indonesia (RJJ) Proyek Gas Processing Facility (GPF) J-TB serta subkontraktornya PT Yasa Industri Nusantara (YIN).
“Alhamdulillah sudah mulai didistribusikan kepada warga,” ucapnya.
Sementara warga Desa Kalisumber, Kastur, mengaku, sejak akhir bulan Juli sebagian warga Kalisumber sudah mulai kesulitan air bersih. Diantaranya warga Dusun Jambe, Rukun Tetangga (RT) 09, 10, 11, Dusun Kalikrikil, Dusun Kalipang RT 06, 07, 08.
“Seandainya dibantu enam tanki air bersih saja kurang,” ujarnya terpisah.
Untuk bisa mendapatkan air bersih, warga harus rela minta tetangga RT. Meski harus menunggu lama karena sumber airnya telat. Itupun tidak setiap hari dan tidak bisa banyak yang didapat. Hanya satu jerigen ukuran 15 liter saja.
“Saya sampai beli ke tetangga desa Rp80.000 dikasi enam bak air bersih,” tutur warga ring satu sumur migas TBR ini.
Pria yang juga tokoh masyarakat Desa Kalisumber ini, menyarankan, Pemerintah Desa (Pemdes) Kalisumber jangan hanya berdiam diri. Tapi segera mengambil langkah untuk meringankan penderitaan warga. Dengan mengajukan permohonan bantuan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Semoga saja pemdes segera mengajukan bantuan air bersih. Karena sampai saat ini belum ada dari pihak manapun yang memberikan bantuan air bersih ke warga,” pungkasnya.(ams)Â