SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah seputaran kota Bojonegoro, Jawa Timur, terkesan bermain kucing-kucingan dengan warga saat melayani pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium.
Hal ini seperti dialami oleh salah satu warga bernama Warno (35) saat meminta diisikan bahan bakar jenis premium. Namun, karyawan SPBU yang notabene seorang perempuan muda berujar jika tidak ada stok premium yang ada hanya jenis pertalite.
“Kalau tidak ada, kenapa papan pengumuman digitalnya menunjukkan adanya stok premium,” ungkap pria asal Desa Banjarejo ini kecewa.
Saat Suarabanyuurip.com mengkonfirmasi hal tersebut kepada pengawas SPBU Sawunggaling, Ekwan Budi, menegaskan, jika pihaknya tidak menyembunyikan stok premium dari warga.
“Silahkan ditanya lagi karyawan kami, karena stok premiumnya masih banyak. Ada tujuh kiloliter sekarang,” ujarnya.
Pria 45 tahun ini berkilah, jika karyawan yang dimaksud tidak mengetahui jika ada bahan bakar premium yang dijual karena merupakan anak baru.
“Oh, anak baru itu. Tidak tahu kalau ada premium disini,” imbuh Ekwan, sapaan akrabnya.
Pria berkumis tipis ini mengaku, jika kebutuhan premium di tempat kerjanya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan pertalite atau pertamax.
“Kebutuhan premium disini sangat sedikit, masyarakat kebanyakan minta pertalite,” lanjut karyawan yang kesehariannya menggunakan seragam berwarna hitam.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro. Kebanyakan, warga yang mengisi bahan bakar diarahkan pada jenis pertalite. Sementara, tidak ada petunjuk atau tulisan ketersediaan premium.
Padahal, ketika Suarabanyuurip.com datang untuk meliput, tanda masuk untuk bahan bakar jenis premium langsung dibuka oleh karyawan SPBU, yang sebelumnya ditutup dengan rantai.
Salah satu pemilik kendaraan motor matic, Rahmawati (35), saat dimintai komentar membenarkan jika SPBU Kalianyar tidak pernah menunjukkan adanya penjualan bahan bakar jenis premium.
“Saya kalau isi bahan bakar disini, selalu pertalite. Tidak premium, karena yang disediakan cuma pertalite,” imbuh wanita berhijab ini.
Menurut warga Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas ini, bahwa keberadaan premium masih dibutuhkan bagi warga kalangan ekonomi menengah kebawah.
“Ya kalau saya pribadi tidak milih kualitas. Tapi harga, kan lebih murah premium,” ungkap pengendara motor jenis matic ini.
Ibu satu anak ini berharap, apabila SPBU memiliki stok premium untuk tidak menutup-nutupi. Misalnya dengan memasang papan atau tanda petunjuk untuk jenis premium dan pertalite.
“Selama ini, SPBU itu kesannya hanya menjual pertalite,” tukasnya.
Terpisah, pengawas SPBU Kalianyar, Nyanto, mengaku tidak berani memberikan konfirmasinya terkait hal ini.
“Mohon maaf ya kami tidak bisa memberikan keterangan,” pungkas pria muda ini.(rien)Â