SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Bojonegoro – Berakhirnya proyek konstruksi lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) beberapa tahun lalu, masih menyisakan beberapa persoalan. Diantaranya terkait pengangguran. Terutama pemuda usia produktif di wilayah ring-1 proyek Banyu Urip. Salah satunya di Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Di wilayah ini, kurang lebih 20 persen pemuda desa yang tidak memiliki pekerjaan atau menganggur. Hanya mereka yang pekerja keras dan ulet yang bisa memiliki penghasilan.
Sekretaris Desa (Sekdes) Brabowan, Basuki Riyanto, mengakui, pasca proyek infrastruktur Banyu Urip selesai pengangguran di desanya cukup tinggi.
“Dulu awalnya sekira 40 persen. Sekarang kurang lebih tinggal 20 persen yang masih nganggur,” kata Riyan, sapaan akrabnya, Selasa (2/10/2018).
Menurutnya, sebanyak 130 pemuda tercatat di buku karang taruna Desa Brabowan. Baik yang masih sekolah maupun yang sudah lulus.
“Itu jumlah total bauk laik laki-laki mapun perempuan,” jelas pria yang mengakhiri masa lajangnya pada bulan Januari 2018 itu.
Di jelaskan, separuh lebih pemuda produktif eks pekerja proyek Banyu Urip saat ini telah bekerja kembali.
“Kira-kira 50 persennya diajak perusahaan lama. Meski hanya sekadar pemotong rumput. Sisanya mengadu nasib di luar kota,” ujar pria asli kelahiran Desa Brabowaan.
Pihaknya tidak memungkiri, jika masih banyak juga pemuda yang belum bekerja.
“Kalau mereka yang malas ya hanya bisa ngopa ngopi saja di warung,” terangnya.
Di sisi lain, pihaknya bersyukur adanya program Corporate Social Responsibility (CSR) dari operator Blok Cepu, EMCL yang diperuntukkan untuk pembanguan Tembok Penahan Tanah (TPT). Karena sebagian pemuda bisa digilir ikut bekerja, dari lingkungan RT (Rukun Tetangga) ke RT lain.
“Dengan terlibat di pembangunan TPT desa mereka bisa mendapat pemasukan yaitu upah kerja,” pungkas pria berusia 27 tahun ini.(ams)