SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Bojonegoro – Puluhan warga yang mengatasnamakan Forum Kedaulatan Masyarakat Bojonegoro (FKMB) melakukan unjuk rasa di fly over (jembatan layang) yang menjadi pintu utama Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (5/10/2018).Â
Mereka menuntut agar sebagian produksi minyak mentah dari Lapangan Banyuurip diolah di Bojonegoro. Salah satunya melalui kilang minyak mini milik PT. Tri Wahana Universal (TWU).
“Ini akan membuka peluang usaha dan kerja bagi masyarakat lokal. Usaha berskala kecil hingga besar akan tumbuh, dan bisa meningkatkan kesejahteraan warga,” tegas Koordinator FKMB, Edi Susilo.Â
Semenjak pasokan minyak mentah Banyuurip dihentikan 31 Januari 2018 lalu, TWU menghentikan pengolahan sumber energi tak terbaharukan tersebut. Praktis aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh. Usaha warung makanan, penginapan, cucian, trading (pengiriman minyak olahan) gulung tikar, dan ratusan pekerja lokal kehilangan pekerjaan. Â
“Kalau di sini ada kilang mengapa harus diolah di luar Bojonegoro. Ini sangat merugikan warga lokal,” tandasnya.
Massa juga melakukan aksi di Kantor Pertamina EP Cepu (PEPC) di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu. Mereka akan terus melakukan demo sampai tuntutannya dipenuhi.
Penghentian produksi TWU ini disebabkan adanya kenaikan bahan baku minyak mentah dari Banyuurip sebesar US $ 6 per barel berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 4028 K/12/MEM/2017 tanggal 21 November 2018, tentang Formula Harga Minyak Mentah Indonesia untuk Jenis Minyak Mentah Banyuurip. Â
Kenaikan harga tersebut setelah Pertamina meminta keadilan harga minyak Banyuurip agar disamakan dengan kilang-kilang lainnya. Pertamina melalui anak usahanya, PEPC memiliki hak kelola Lapangan Banyu Urip sebesar 45%.Â
Harga baru tersebut mengakibatkan bisnis anak usaha group Saratoga (TWU,red) tidak ekonomis, sehingga manajemen terpaksa harus menghentikan kegiatan produksi.
Sebelumnya, TWU mendapatkan harga sesuai ICP Arjuna minus US$ 0,5 per barel. Setelah terbitnya Kepmen ESDM itu hargnya menjadi ICP Arjuna plus US$ 5,5 per barel pada titik serah di Floating Storage and Offloading ( FSO) Gagak Rimang di lepas Pantai Palang Tuban, Jawa Timur.Â
Direktur Utama TWU, Rudi Tavinos pernah menyampaikan jika konsep kilang mini yang dibangun dekat ladang minyak ini bisa memangkas biaya transportasi minyak mentah ke kilang maupun biaya distribusi BBM ke konsumen. Dengan begitu, makin banyak kilang mini yang beroperasi maka dapat mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
Selain itu juga dapat menciptakan optimalisasi produksi pada lapangan minyak mentah di daerah-daerah marginal.(ams)Â