SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban- Rencana Taiwan memboyong proyek Petrokimia di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, gagal. PT Pertamina (Persero) menggandeng CPC Corporation, Taiwan menggarap proyek petrokimia di kawasan Kilang Balongan, Jawa Barat. Sinergi ini dituangkan dalam kesepakatan kerja sama yang diteken di Forum IMF-World Bank 2018 di Bali.
“Kedua perusahaan akan mengembangkan naptha cracker kelas dunia dan membangun unit turunannya di sektor hilir. Pabrik ini akan menghasilkan Propylene, Polyethylene dan Butadiene,†ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dalam siaran resminya yang diterima suarabanyuurip.com, Minggu (14/10/2018).
Nikce menjelaskan, nilai proyek ini mencapai US$ 6,5 Miliar atau Rp 97,5 triliun. Proyek anyar ini diproyeksikan akan beroperasi pada 2026 mendatang.
Dalam menggarap proyek itu, Pertamina dan CPC juga membuka peluang bagi perusahaan lain yang ingin bergabung. Nantinya kedua perusahaan akan membentuk perusahaan patungan dan tidak menutup kemungkinan untuk menggandeng pemain hilir potensial lainnya.
Sebelum pengerjaan proyek akan dilakukan kajian awal untuk menilai kelayakannya. Kajian tersebut akan memakan waktu sekitar 3-6 bulan ke depan. Adapun kapasitas proyek itu sebesar 1 juta ton per tahun.
Pembangunan pabrik ini juga bagian dari pembenahan kilang minyak yang ada di Balongan. Alasannya, ke depan, perusahaannya harus memproduksi Bahan Bakar Minyak (BBM) berstandar Euro 4 dan 5.
“Kami juga bangun integrasi petrokimia plant-nya,” sambungnya.
Di beritakan sebelumnya, Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, di awal 2018 diundang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan bersama PT Pertamina (persero) di Jakarta. Salah satu yang dibahas adalah, rencana Taiwan melakukan relokasi industri Petrokimia di Desa Remen, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tepatnya di dalam kompleks Kilang PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI).
“Rencana relokasinya bersinergi dengan PT TPPI,” terangnya.
Politisi asal Kecamatan Rengel ini, menjelaskan, Pemkab Tuban baru diajak sekali membahas relokasi Pabrik Petromia dari Taiwan tersebut. Itupun sampai dengan akhir Juli 2018, belum ada realisasinya.
Informasi yang diterima Wabup, alasan relokasi karena pabrik Petrokimia di sana sudah terkepung permukiman seiring perkembangan kota di Taiwan. Relokasi sangat mungkin dilakukan, mengingat pabriknya di sana belum sampai operasi.
Munculnya rencana relokasi tersebut, berawal saat Menteri Luhut berkunjung di Taiwan. Tawaran tersebut akhirnya disampaikan ke Pertamina, karena kedepannya bahan baku kondesat akan dipasok perusahaan plat merah itu. Sedangkan penyampaikan ke Pemkab, karena sebagai tuan rumah investasi. (Aim)