SuaraBanyuurip.com -Â Ina Maghfiroh
Tuban-Â Perkembangan teknologi di era digital sekarang ini betul-betul dimanfaatkan oleh anggota Bank Sampah Desa Karanggagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dalam menjajakan produk daur ulang sampahnya.
Dari penjualan online, perlahan perekonomian masyarakat terangkat. Daur ulang sampah ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang digulirkan operator Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
“Saya senang dan juga bingung, karena dari hasil penjualan masih belum beroprasi dengan baik dan tidak stabil. Senangnya bisa menambah ekonomi,†ujar salah satu pengola bank sampah di Desa Karangagung, Diana, ketika ditemui suarabanyuurip.com, dikediamannya, Senin (15/10/2018).
Wanita berparas manis itu berharap agar ada kesadaran dan penambahan dari anggotanya. Selama ini masih ada yang kurang optimal mengoperasikan bank sampah dari hasil daur ulang.
Adapun beberapa produk yang di hasilkan, mulai tas, dompet dari potongan kemasan, bros (biasa, ubur-ubur), dan gelang tangan dari kalender. Hasil kreasi dapat dinikmati dan dirasakan oleh masyarakat Surabaya, Bojonegoro, dan lingkungan Desa Karangagung.
“Kami juga melayani transaksi online,†terang perempuan bersuara lembut.
Dengan adanya program CSR dari anak perusahaan raksasa migas asal Amerika itu, masyarakat lebih sejahtera, terutama dalam bidang ekonomi. Perlahan dapat dirasakan keuntungannya, sekaligus ada penambahan pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Urusan Perencanaan Desa Karangagung, Shohip, menambahkan, sejak tahun 2017 sampai sekarang bank sampah masih berjalan dengan baik. Selain itu, program pemberdayaan ibu nelayan sempat berjalan sebentar. Sekarang sudah tidak operasi lagi, meskipun demikian organisasinya masih berjalan.
Program CSR EMCL ini digulirkan sejak 2013 dalam bentuk fisik dan non-fisik. Bantuan fisik di antaranya, tambat labu, pos pantau nelayan, rumpon (tempat ikan di laut), jalan paving, saluran air, pusat renovasi tambat labu (dalam proses), dan lain sebagainya.
“Program non-fisik, mencakup sumber pemberdayaan ibu rumah tangga, pemberdayaan Karangtaruna, dan juga pengolaan kebijakan sampah,†tambahnya.
Shohip menegaskan, tak semuanya program CSR berjalan sesuai harapan. Salah satunya produksi pengolahan hasil laut, yang sudah tidak produksi lagi.
Kelemahan yang utama yaitu pemasaran. Para pelaku tidak memiliki tim pemasar, sehingga hanya bisa memasarkan di pasar tradisional.
Disamping itu, prodak yang diolah harganya sedikit lebih mahal daripada hasil penjualannya.
Sekalipun demikian, keberadaan program ini sangat dinikmati, dan semakin lama lebih baik. Selain itu cukup membantu perekonomian Desa Karangagung.
Adapun pericincian nominal program fisik maupun non-fisik dari tahun ke tahun, pihak desa tidak mengetahui sama sekali. Dikarenakan itu murni dari EMCL langsung. Beberapa yang diketahuinya, meliputi, tambat labu sekitar Rp120 juta di 2015, program jalan nelayan Rp120 juta, jalan paving 2017 sebesar Rp120 juta.
Terpisah, Ketua Karang Taruna Karangagung, Habib Mustofa, meminta adanya evaluasi program CSR karena terlihat masih belum tepat sasaran. Semestinya program tanggungjawab sosial perusahaan itu tidak hanya diprioritaskan untuk infrastruktur, melainkan juga pada pemberdayaan ekomoni, maupun pemberdayaan yang lain.
“Itu lebih konkrit untuk evaluasi tersendiri. Hal itu bisa disandingkan atas potensi di Karangagung untuk pemberdayaan,†saran aktifis PMII Tuban ini.
Dikonfirmasi perihal program CSR 2018 di Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Humas EMCL, Rexy Mawardijaya, belum sempat memberikan keterangan detail. Pria ramah ini baru akan mengecek datanya secara lengkap.
“Saya cek dulu ya kelengkapannya,†pungkasnya. (ina)