SuaraBanyuurip.com -Â Â Ali Imron
Tuban- Puluhan pelajar SMAN 1 Kenduruan yang terletak di sekitar Lapangan Migas Albatros Putih (ABP-1) melakukan studi jurnalistik ke markas Ronggolawe Press Solidarity (RPS) di Balai Wartawan Jalan Pramuka Nomor 1 Tuban, Jawa Timur. Kedatangan rombongan tim redaksi Majalah Krismaka ini, disambut langsung oleh Ketua RPS, Khoirul Huda dan anggota.Â
Di sela-sela studi jurnalistik ini, mereka berdiskusi tentang mekanisme membuat sebuah produk berita dengan salah satu anggota RPS, Sri Wiyono, pemimpin redaksi (Pimred) di salah satu media lokal di Bumi Wali.Â
“Dalam membuat berita harus cover both side, dengan menyantumkan nara sumber yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Sri Wiyono, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, Sabtu (20/10/2018).
Ono sapaan akrabnya, menjelaskan sebagai penulis di majalah Krismaka harus mampu menyajikan menu berita yang menarik. Dikarenakan menarik tidaknya sebuah karya, mempengaruhi kenyamanan khalayak ketika membacanya.Â
“Saat berita menarik tentu pembaca akan puas, dan menunggu naskah berita berikutnya,” terangnya.
Komunikasi studi kali ini berjalan dua arah. Salah satu siswi Setyaningsih, menanyakan bagaimana cara membuat berita bagus dan menarik agar bisa masuk di halaman utama majalah.Â
Mendapatkan pernyataan tersebut, bapak dari dua anak ini menjelaskan, jika menarik tidaknya berita berada di tangan penulis. Oleh karena itu, sebelum menuliskan sesuatu harus membuat sebuah perencanaan yang matang, menentukan nara sumber, dan mengumpulkan data dan fakta.Â
“Cek dan ricek sebuah informasi juga penting, sebelum menuliskannya menjadi sebuah berita,” imbuhnya.Â
Pertanyaan berbeda disampaikan Ayu Kuspita Sari. Gadis berkulit langsat itu ingin mengetahui tugas terberat dari seorang wartawan.
Rasa penasaran siswa tersebut, langsung dijawab anggota RPS dengan senyuman. Karena dalam berproses membuat berita ada suka dan dukanya.Â
“Kalau mau menulis berita pertama cek dan ricek fakta, kemudian konfirmasi narasumber. Langkah itu mutlak dilakukan untuk menghindari opini,” tegasnya.Â
Perbincangan semakin asyik, ketika jurnalis media online Surabaya, Imam Suroso, membahas proses mengelola majalah sekolah dan majalah dinding. Hal pertama harus diperhatikan adalah penentuan tema untuk dirapatkan bersama tim redaksi.Â
Dilanjutkan setiap tim majalah harus menyepakati deadline, atau batas akhir pengumpulan karya. Disamping itu, layout juga tak kalah pentingnya karena menjadi menarik tidaknya sebuah majalah.Â
“Penempatan dan ukuran foto dalam majalah juga harus dipertimbangkan Pimred,” sambung penasehat RPS Tuban.Â
Di era millenial, kekuatan foto sangat luar biasa. Belakangan banyak tim redaksi majalah yang memperkuat foto yang dapat berbicara, dengan mengurangi jumlah naskah. Strategi ini juga salah satu menariknya sebuah majalah.Â
Sekretaris RPS Tuban yang juga jurnalis media televisi, Dion Fajar Arianto, juga berbagi pengalamannya kepada pelajar. Diantaranya proses mencari berita di media televisi.Â
“Ada dua macam jenisbya, pertama liputan harian tema bebas, dan kedua perintah kantor temanya sudah ditentukan,” terang bapak dua anak ini.Â
Menjadi wartawan harus banyak kawan atau jaringan, karena akan menguntungkan dalam hal mendapat informasi. Jika terlambat datang dalam sebuah peristiwa, tentu akan ketinggalan momen dan tidak bisa liputan.Â
Dalam membuat video jurnalistik konsep dasarnya gambar bercerita dan pengambilannya cut to cut. Cukup dengan melihat video, orang lain akan mengetahui maksud dari peristiwa tersebut.Â
Terpisah, Kepala SMAN 1 Kenduruan, Supriadi, berterimakasih karena RPS sudi berbagi pengalaman soal jurnalistik. Sinergi ini merupakan lanjutan dari sekolah jurnalistik kerjasama dengan Pertamina EP Asset 4 Cepu Field yang telah berlangsung di tahun 2017.Â
“Semoga dari kunjungan ini, majalah sekolah SMAN Kenduruan lebih produktif dan berkualitas,” pungkasnya. (aim)