SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban-Â Untuk memenuhi kebutuhan air warga yang terdampak kekeringan di musim kemarau 2018, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Jawa Timur, telah menghabiskan anggaran penanggulangan bencana kekeringan sebesar Rp157 juta. Di dropping air gelombang ke-10 ini, tim mulai menggunakan Dana Tak Terduga (DTT) sebesar Rp41.175 juta.
“Anggaran Rp157 juta sudah habis,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Gaguk Hariyanto, ketika ditemui suarabanyuurip.com, disela- sela dropping air di Desa Sambongrejo, Kecamatan Semanding, Selasa (23/10/2018).
Gaguk sapaan akrabnya, menjelaskan, penggunaan DTT tersebut setelah Bupati Tuban mengeluarkan surat tanggap darurat bencana kekeringan. Diharapkan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut, mencukupi hingga turunnya hujan di pekan kedua bulan November mendatang sebagaimana prediksi BMKG.
Kekeringan tahun ini sangat luar biasa, jika dibandingkan kekeringan tiga tahun terakhir. Di tahun 2015 ada 43 desa terdampak kekeringan, tahun 2016 kemarau basah, tahun 2017 hanya 35 desa, dan tahun 2018 ini tak kurang dari 51 desa dari 11 kecamatan mengalami krisis air bersih.
“Versi BMKG kekeringan klimatologi karena tidak ada dampak El-Nino,” terangnya.
Di awal musim hujan nantinya, Kalaksa BPBD, Tuban, Joko Ludiono, khawatir disaat tanah kondisinya kering kemudian turun hujan akan ada material yang terbawa. Seperti dua hari yang lalu di Desa Selogabus, Kecamatan Parengan, hujan rintik-rintik langsung diikuti angin kencang atau puting beliung.
“Dampaknya tujuh rumah rusak ringan, pos kampling dan tembok SD roboh,” sambung mantan Camat Widang ini.
Mengantisipasi di daerah lain, BPBD senantiasa koordinasi dengan 20 Pemerintah Kecamatan untuk waspada menghadapi runtutan dampak kekeringan. Sekalipun prediksi BMKG hujan di Tuban tidak sampai 300 Milimeter (Mm), tapi karena kondisi tanah kering menjadikan material terbawa saat banjir, maupun angin kencang.
“Mari kita jadikan perhatian bersama khususnya wilayah yang rawan bencana,” tambah pria berkacamata bening ini.
Data BPBD Tuban, 11 Kecamatan yang terdampak kekeringan klimatologi meliputi, Kecamatan Semanding, Grabagan, Soko, Parengan, Montong, Bangilan, Singgahan, Senori, Jatirogo, Rengel, dan Kerek. Lebih dari 18 ribu Kepala Keluarga (KK), terus didropping air untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Salah satu warga Desa Sambongrejo, Jinah, berterimakasih kepada Pemkab melalui BPBD yang rutin mengirimkan air bersih. Sumur miliknya mengering, dan airnya rasanya asin.
“Di rumah warga air sumur rasanya asin, sedangkan di sawah air sumurnya tawar,” beber perempuan yang kulitnya mengeriput.
Meski hanya dapat 2 jerigen air, pihaknya bersyukur karena air tersebut bisa digunakan untuk mandi, memasak, maupun mencuci baju. Apabila habis, biasanya membeli air galon dengan harga Rp5 ribu/galonnya.
“Disini susah nyari air saat kemarau,” pungkasnya. (Aim)