SuaraBanyuurip.com -Â Hidayatul Khoiriyah
Tuban-Â Sepekan terakhir masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sangat mudah menemukan ulat jati karena bergelantungan di pohon tepi jalan. Tak hanya itu, kemunculan Ulat Jati yang memiliki nama ilmiah (Hyblaea puera) juga meresahkan warga karena sudah memasuki rumahnya.
“Kemarin sampai ada yang kecelakaan karena menghindari ulat,” ujar warga Desa Sambongrejo, Kecamatan Semanding, Abdus Salam, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, Minggu (9/12/2018).
Kendati demikian, warga tak dapat menolak adanya penyerangan ulat jati yang sudah menjadi peristiwa tahunan itu. Satu-satunya cara yaitu menyapunya ketika masuk rumah.
“Mau gimana lagi ini sudah musiman,” bebernya.
Segendang seirama yang disampaikan, Sekretaris Desa Penambangan, Semanding, Wahyu Denis. Aparatur desa tidak dapat berbuat banyak karena kejadian tersebut bukan sesuatu yang dapat diantisipasi. Hal yang bisa dilakukan warganya hanya menghilangkan ulat jati sementara.
“Warga hanya sebatas menyapu, karena sudah biasa,” sambungnya.
Ulat jati yang memiliki warna coklat dengan sepasang garis kuning kecil disetiap sisi, dan diantara dua garis berwarna coklat gelap panjangnya 3.5 cm. Saat siang hari ulat ini turun dari pohon, dan malam hari naik ke pohon untuk makan.
Untuk kepompong atau yang biasa disebut entung dari jenis ulat jati Hyblaea puera memiliki ciri-ciri berwarna coklat sampai coklat tua kehitam-hitaman, panjang rata-rata 1,4–1,9cm, berat rata-rata 0,7-1,3mg. Kepompong ini yang kemudian banyak dicari masyarakat untuk dikonsumsi.
Dari hasil penelitian Umi, M. et al. (2012), ungker mengandung protein yang sangat besar. Fungsi protein lainnya untuk mengatur keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh, membentuk antibodi, mengangkut zat-zat gizi (misalnya lipo protein dan transferin), biokatalisator dan sumber energi.
Sekretaris Dinas Kesehatan Tuban, Endah Nurul, menjelaskan, ada beberapa spesies ulat bahkan ada yang beracun. Kalau ulat jati kandungan proteinnya malah tinggi.
Ulat daun jati memang munculnya di awal musim penghujan seperti saat ini. Bulunya memang bisa mengakibatkan gatal bila menyentuh kulit, tetapi sensitivitas tiap orang berbeda.
“Tiga pekan sampai satu bulan komunitasnya akan berkurang, memang ini siklus tahunan,” terang perempuan ramah ini.
Apabila sudah menjadi kepompong, harganya bisa mencapai Rp80.000/Kg. Bagi yang suka calon kupu-kupu itu bisa ditumis, balado, sayur lodeh sampai dibuat rempeyek. (hida)