Paparkan Kajian Gas H2S Migas Blok Tuban

Paparkan Kajian Gas H2S Lapangan Migas Sukowati

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Jawa Timur, menggelar rapat koordinasi dengan operator Lapangan Migas Sukowati, Blok Tuban, Pertamina EP Asset 4 terkait kajian pemaparan H2S dan Flammable gas di ruang pertemuan kantor setempat Rabu (12/12/2018). 

Rapat koordinasi dihadiri pemerintah desa ring 1 Lapangan Migas Sukowati. Yakni Desa Ngampel dan Sambiroto Kecamatan Kapas, dan Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Forpimka dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Pembahasan kajian diberikan oleh salah satu dosen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dari Daerah Istimewa Jogjakarta. 

Dalam paparannya, Dosen Fakultas Tekhnik UGM, Sumardi, menyampaikan, maksud dan tujuan kajian paparan H2S dan flammable gas yang ada di Pad B Lapangan Migas Sukowati adalah sebagai dasar pertimbangan bagi pemerintah dan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan untuk mengeluarkan izin Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Amdal ini dibutuhkan untuk rencana pengeboran well water injection atau sumur injeksi,” ujarnya. 

Selain itu, lanjut Sumardi, untuk mengidentifikasi “harzadous area” dan berbagai pencegahan  yang harus dilakukan oleh Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field saat mengerjakan proses pengeboran sumur injeksi. 

Baca Juga :   EMCL Dituding Serobot Lahan Warga

“Agar tahu cara melindungi personil dan lingkungan dari paparan gas H2S,” ucapnya.

Pria 50 tahun ini menjelaskan seandainya terjadi kebocoran gas dari mulut sumur saat produksi, tidak semuanya gas yang keluar adalah H2S.

“Jika harus keluar, jumlah gas H2S adalah 132 gram per menit,” tegasnya.

Menurut dosen yang bergelar Doktor Insinyur ini, konsentrasi gas H2S yang memberikan dampak pada manusia adalah di atas 1  ppm (part per million). Jika masih di bawah itu, dampaknya tidak seberapa.

Sementara, dari pengukuran yang dilakukan operator saat terjadi kebocoran gas, H2S  yang keluar adalah 0,6 ppm. 

“Yang terjadi selama ini, gas dari mulut sumur tidak semuanya H2S. Kalaupun ada, di bawah 1 ppm,” imbuh pria berambut lurus ini. 

Dijelaskan pula jika kondisi psikologis masyarakat dengan pasien yang menderita sakit itu berbeda. Pasien karena sudah sakit apabila mencium bau khas dari H2S, pasti akan marah dan timbul kepanikan. 

“Oleh sebab itu, kami merekomendasikan agar Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field ini membentuk tim dalam hal emergency,” sarannya. 

Baca Juga :   Pertamina Beri Bantuan Kebutuhan Pokok Korban Gempa di Sumbar

Selain itu, juga harus ada pemasangan alarm untuk mendeteksi keberadaan H2S di setiap sudut tembok RSUD Sosodoro Djatikusumo agar ada tindakan standart operasional prosesur (SOP) jika memang terjadi kebocoran gas diatas 1 ppm.

Juga menyiapkan semprotan air agar gas yang keluar larut dalam air tersebut dan tidak sampai menyebar ke udara. 

“Jadi, jangan terlalu panik jika ada kebocoran gas,” pesan pria asali Jogjakarta ini.

Terpisah, Kepala DLH Bojonegoro, Nurul Azizah, mengapresiasi langkah Pertamina EP Asset 4 Field Cepu yang memberikan paparan terkait H2S. Hal ini menjawab keresahan warga terutama keberadaan RSUD yang berjarak hanya 200 meter dari Pad B. 

“Kita akan tindak lanjuti pertemuan ini, seperti harus membentuk tim emergency jika memang ada kebocoran gas yang membahayakan warga dan pasien di rumah sakit,” pungkasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *