SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Rusaknya sejumlah gedung sekolah di Bojonegoro, Jawa Timur, mendapat perhatian serius DPRD setempat. Wakil rakyat itu menuding Dinas Pendidikan setempat tidak serius menangani gedung sekolah rusak di wilayahnya.Â
“Apalagi, sekolah yang rusak itu ada di sekitar wilayah industri minyak dan gas bumi dengan kondisi memprihatinkan,” kata Ketua Komisi D DPRD Bojonegoro, M Fauzan, kepada suarabanyuurip.con saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/1/2019).Â
Seharusnya Dinas Pendidikan melakukan mapping (pemetaan) yang benar. Terlebih pemerintah desa telah mengajukan anggaran perbaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa atau Musrenbangdes seperti di SDN Punggur dan SDN Sedahkidul, Kecamatan Purwosari.Â
“Bagaimana bisa, sekolah di sana tidak tercover perbaikannya padahal kita ada DBH Migas Pendidikan yang ditujukan untuk perbaikan gedung SD,” tegas Politisi Partai Demokrat.Â
Sekalipun perbaikan dilakukan secara tekhnis oleh Dinas Kawasan Pemukiman, Perumahan, dan Cipta Karya, namun data sekolah rusak mulai dari ringan, sedang, sampai berat adalah wewenang Dinas Pendidikan.Â
Data yang diperoleh Komisi D menyebutkan, nilai DBH Migas Pendidikan Tahun 2019 kurang lebih sebesar Rp43 miliar, sementara anggaran dari APBD 2019 adalah kurang lebih Rp800 miliar.
“Jadi, selain DBH Migas pendidikan kita juga anggarkan di APBD. Kalau tidak salah tahun ini jumlahnya Rp800 miliar,” tandasnya.Â
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Hanafi, tidak memberikan respon terkait hal ini. Saat ditemui dikantornya tidak ada, saat dihubungi tidak diangkat, dan saat dikirimi pesan pendek tidak dibalas.Â
Sebelumnya, dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, kondisinya sangat memprihatinkan. Dua SDN tersebut adalah SDN Sedahkidul dan SDN Punggur.
Dua lembaga pendidikan yang berada jalur proyek gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) itu bangunannya nyaris ambruk. Sehingga murid-murid yang ada harus direlokasi ke ruangan lain.(rien)