Humpuss Setiap Tahun Ajukan Reaktivasi Kilang

Kilang Humpuss

SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno

Blora – Kilang mini milik PT Humpuss Patragas saat ini masih mangkrak di lahan milik Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas). Kabar terakhir, pihak Humpuss mengajukan kembali untuk reaktivasi kilang yang telah berdiri sejak tahun 1998 itu. Diketahui, sampai saat ini kilang dengan kapasitas 10.000 barel per hari (bph) itu belum pernah beroperasi.

Di peroleh informasi, bahwa pada Jum’at (25/1/2019) telah dilakukan rapat pembahasan untuk reaktivasi Kilang Humpuss.

“Dihadiri Humpuss, Pertamina EP Asset 4, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Pertamina EP JTB, Pertamina EP ADK,” ujar Henk Subekti, Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Sarana Prasarana Pengembangan SDM, PPSDM Migas Cepu.

Menurutnya, Humpuss mengklaim bahwa kilang mereka masih layak. “Katanya sih hasil tes tahun 2015, masih layak. Tapi tidak tahu sih,” ujarnya dengan raut muka ketidakyakinan.

Rencana reaktivasi Kilang Humpuss, lanjut dia, masih dalam pembahasan dengan Pertamina.

“Setiap tahun selalu mengajukan reaktivasi,” ujarnya.

Pembahasan di Pertamina itu, kata dia, terkait dengan kemapuan Humpuss untuk melakukan reaktivasi kilang. Mengingat masih terkendala dengan ketersediaan minyak mentah (crude oil) untuk dilakukan pengolahan.

Baca Juga :   IKPT Lanjutkan Pengelasan Pipa Blok Cepu

Sebab, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) yang ada di wilayah Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tidak bisa menyukupi kebutuhan produksi kilang humpuss.

“Pertamina EP ADK tidak bisa menghasilkan Crude 10.000 bph, Pertamina EP Aseet 4 juga tidak bisa, Pertamina EP JTB dalam bentuk Condensate dan itu pun hanya 3.000 barel,” tandasnya.

Sementara yang memungkinkan untuk menyuplai minyak mentah, harapannya hanya pada EMCL. Kalau Humpuss ingin mendapatkan minyak juga harus dengan membeli sesui ICP (Indinesian Crude Price). Adapun jatah EMCL, kata dia, sebesar 30.000 barel diolah di kilang mereka sendiri yang berada di Thailand. Sedangkan jatah Pemerintah di oleh Pertamina.

“Humpuss disarankan untuk melakukan pendekatan pada Pertamina,” ungkap pria ramah ini.

Persoalan lain yang menjadi kendala untuk reaktivasi kilang, adalah jenis crude oil. Kilang humpuss didisain untuk jenis Crude 41 OAPI, jadi ringan.

“Sementara Crude Banyu Urip OAPI-nya kisaran 30-31. Kan tidak cocok,” tuturnya.

Sejak selesai dibangun tahun 1998 lalu, Kilang dengan kapasitas produksi 10.000 bph tersebut belum pernah dioperasikan.

Baca Juga :   PT BBS Akan Perbaiki Jalan Selasa Depan

Dari informasi yang dihimpun suarabanyuurip.com, poses produksi belum bisa berjalan lantaran feedstock (bahan baku) melalui instalasi pipa yang telah disiapakan dari sumur minyak ke kilang belum tersedia. Meskipun konstruksi kilang minyak sudah selesai sejak tahun 1998 lalu.

Sementara, Kilang milik PPSDM Migas Cepu, sampai saat ini masih eksis produksi meski tidak maksimal. Kilang peninggalan penjajahan Kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1894 tersebut, memiliki kapasitas produksi  3.800 bph.

“Kami hanya produksi Solar dan Pertasol. Crude-nya dari Pertamina dan kembali ke Pertamina,” kata Henk.(Ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *