SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Transparansi masih menjadi salah satu persoalan di industri hulu migas. Hingga saat ini satu-satunya informasi yang belum dibuka oleh pemerintah pusat adalah cost recovery Blok Cepu.
Cost recovery ini merupakan biaya operasi yang dikeluarkan oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memproduksi migas. Biaya tersebut dapat diklaimkan KKKS agar diganti oleh negara.
“Menurut saya, sebagai daerah penghasil Bojonegoro layak mendapatkan informasi jumlah cost recovery,” kata Koordinator Pubish What You Pay (PWYP) Indonesia, Maryati Abdullah kepada suarabanyuurip.com saat di Bojonegoro, Kamis (15/2/2019) lalu.  Â
Menurutnya, akses untuk mendapatkan data cost recovery melalui SKK Migas sebagai pengawas kontrak Production Sharing Contract (PSC). Bisa juga melalui BUMD Bojonegoro, PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) sebagai pengelola Participating Interest (PI) karena memiliki penyertaan modal di Blok Cepu.
“Artinya ada saham pemda di dalam operator ship sabanyak 4,4 persen. BUMD harus menjadi jembatan bagi pemerintah daerah untuk mengakses data-data yang tidak bisa diakses,” tegas Mary, sapaan akrabnya.Â
Data cost recovery ini, kata Maryati, penting ditransparansikan agar pemerintah daerah bisa mengantisipasi gagal bayar. Jangan sampai masalah tersebut terjadi hanya karena tidak bisa memproyeksikan dan menghitung pendapatan dari migas.
“Pemda Bojonegoro harus sudah belajar untuk mengantisipasi resiko-resiko itu,” lanjut wanita berhijab.Â
Dihubungi terpisah, Bagian Humas SKK Migas Jabanusa, Doni Ariyanto, menjelaskab total cost recovery kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas di Bojonegoro tahun 2018 sekira Rp20 miliar. Cost recovery itu dikeluarkan ExxonMobil Cepu Limited, Pertamina EP Asset 4, dan Pertamina EP Cepu (PEPC) .Â
“Data itu belum pasti ya, tapi kurang lebihnya segitu,” imbuhnya.Â
Ditanya jumlah cost recovery di dalam program kerja dan pendanaan (work program and buget/WP&B)Â tahun 2019, Doni juga mengaku tidak hafal datanya. Namun dipastkan ada penurunan.Â
“Tahun ini saya juga tidak hafal datanya, tapi ada penurunan,” pungkas pria berkacamata minus ini.(rien)