SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Rosyid di Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menerima alat fasilitas Rekayasa Sampah Plastik (RESIK) dari operator Lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Dimana program ini adalah program kemitraan yang difasilitasi IDFoS Indonesia, dan diserahkan secara simbolis pada Selasa (26/2/2019).
Hadir dalam serah terima, Kepala Bagian Humas SKK Migas Jabanusa, Doni Ariyanto dan Vice President of Public & Goverment Affair ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, Agus Supriyanto.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Pendidikan, Kementerian Agama (Kemenag), Kepala Bakorwil Bojonegoro, SKK Migas beserta K3S, direktur IDFoS Indonesia, pejabat forkopimda, tokoh agama dan juga seluruh jajaran guru beserta ribuan siswa-siswi Al-Rosyid.
“Banyak orang melihat sampah adalah sesuatu yang menjijikkan. Tapi ExxonMobil mempunyai daya kreatifitas dan mencari pondok yang mampu mengelola sampah, sehingga dilakukan di Al-Rosyid,” kata pengasuh Ponpes Al-Rosyid KH. Alamul Huda Masyhur.
Gus Huda sapaan akrabnya menjelaskan, dengan adanya program ini Al-Rosyid mempunyai slogan ‘sampah bukan masalah, sampah membawa berkah’. Tak lupa ketua Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Bojonegoro itu mengucapkan terimakasih kepada SKK Migas dan ExxonMobil Cepu Limited yang telah membantu, termasuk IDFoS Indonesia yang mendampingi program.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas SKK Migas Jabanusa, Doni Ariyanto menuturkan, pengolahan sampah berbasis masyarakat ini merupakan program CSR (Coorporite Sosial Responsibility) dari hulu Migas. Harapannya bisa memberikan mafaat seluas-luasnya kepada masyarakat dan berselaras dengan Pemkab Bojonegoro.
“Ada tiga aspek yang menjadi prioritas utama yakni pendidikan, kesehatan dan peningkatan ekonomi di Bojonegoro,” imbuhnya.
Pihaknya mengucapkan terimakasih K3S EMCL bersama IDFoS dan berharap kedepannya program ini bisa dikembangkan di daerah pengasil migas yang lainnya.
“Tapi setelah ini juga dipantau agar terus digunakan dan dimanfaatkan,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, Agus Supriyanto, mengapresiasi program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Karena merupakan hal yang positif yang perlu terus dikembangkan.
“Ini baru embrio masih uji coba, kalau nanti berhasil akan dikembangkan lagi. Sehingga akan mengurangi dampak sampah, dan mengurangi kerusakan lingkungan karena bisa dioptimalkan,” jelasnya usai melihat peralatan di lokasi pengelolaan sampah Ponpes Al-Rosyid.
Usai acara, para tamu undangan diajak berkunjung ke tempat pengelolaan sampah, yang sedang berjalan praktek mengelola sampah dengan memisahkan, memilah menggunakan alat dan mengubah sampah yang tidak layak jual menjadi energi panas. Dimana energi panas tersebut untuk menyuling plastik kresek menjadi bahan bakar sejenis solar.(rien)