SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Operator Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memperkirakan produksi puncak minyak dari lapangan Banyu Urip hanya bertahan selama dua sampai tiga tahun lagi atau tahun 2022.
“Puncak produksi sekitar dua sampai tiga tahunlah ya,” kata Vice Predisent Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto, kepada Suarabanyuurip.com saat di Surabaya beberapa waktu lalu.
Masa produksi puncak tersebut berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan perusahaannya. Setelah masuk ke tahun ke empat, pihaknya memastikan produksi minyak Blok Cepu bakal turun secara bertahap hingga 35 tahun kedepan.
“Setelah itu bertahap akan turun,” ujarnya.
Terkait pengembangan lapangan minyak Kedungkeris di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, menurut dia, sekarang ini masih dalam tahap proses penanaman pipa ke fasilitas produksi di Kecamatan Gayam.
Sesuai perkiraan, lapangan minyak Kedungkeris, memiliki potensi cadangan minyak kirang lebih 200 juta barel, dengan produksi 10.000 barel per hari (BPH).
“Dengan satu sumur minyak untuk produksinya hanya berkisar 5-10 ribu barel per hari, yang juga dijadikan satu dengan produksi minyak Blok Cepu lainnya,” tuturnya.
Ia menjelaskan, produksi minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, sekarang ini rata-rata mencapai 202 ribu barel per hari bahkan terkadang mencapai 220 ribu barel per hari.
Di kapal Gagak Rimang, yang kapasitasnya mencapai 2,2 juta barel itu, produksi minyak Blok Cepu, secara tetap diambil dengan kapal tanker minyak. Sejak lifting perdana pada April 2015, pengiriman minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip, ke FSO (Floating Storage & Offloading), sudah dilakukan sebanyak 427 kali.
“Kalau dari Januari sampai April 2019 sebanyak 39 kali,” pungkasnya.(rien)