Transaksional Leadership

Transaksional Leadership

SuaraBanyuurip.com - 

               Oleh : MURTADHO

Sebanyak 236.358 suara rakyat Bojonegoro cukup mengantarkan pasangan calon Bupati Anna Muawanah dan Budi Irawanto memimpin Bojonegoro lima tahun kedepan periode 2018 – 2023. Jargon ngayomi dan ngopeni berikut janji politik saat kampanye cukup membuat rakyat terbuai dengan pesan memikat itu.

Benarkah seorang Anna Muawanah sosok menganut paham transaksional leadership ?. sebelum penulis memaparkan maksudnya, perlu kiranya disimak sedikit latar belakang perempuan kelahiran Tuban ini disamping kenyang duduk di parlemen. 

Banyak publik sudah mengenal Anna adalah seorang pengusaha dan menjabat sebagai Komisaris di PT.Sinarindo Megah Perkasa (distributor besi) dan PT. Sinar Katel Perkasa (peternakan) dan Direktur Utama di PT. Fortuna Megah Perkasa (peternakan sapi qurban). (sumber:http://marufmuhamad33.blogspot.com/2018/02/profil-anna-muawanah.html ).

Maksud dari Transaksional Leadership penulis mengutip tulisan Bambang Sumarsono di halaman websitenya https://www.halopsikolog.com/12-tipe-kepemimpinan/ menyatakan yang dimaksud dengan kepemimpinan Transaksional adalah Jenis kepemimpinan yang mempertahankan dan melanjutkan status quo. 

Kepemimpinan ini juga melibatkan proses pertukaran layaknya jual-beli. Pengikut akan mendapatkan imbalan dengan segera setelah berhasil melaksanakan perintah pemimpinnya.

Pada dasarnya gaya kepemimpinan ini memiliki fokus pada harapan dan pemimpin diharapkan mampu memberikan keterampilan umpan balik dalam proses pelaksanaan perusahaan. Mengutip Boundless.com.

Kepemimpinan transaksional meliputi: Menjelaskan apa yang diharapkan dari kinerja karyawan. Menjelaskan bagaimana karyawan bisa memenuhi harapan tersebut dan Memberikan imbalan terhadap keberhasilan karyawan mencapai tujuan perusahaan

Hal ini berbeda dengan gaya kepemimpinan demokratis lanjut Bambang, kepemimpinan demokratis lebih melibatkan kontribusi bawahan untuk setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin.  Tanggung jawab akhir tetap dipegang oleh pemimpin demokratis, hanya saja dalam prosesnya pemimpin banyak mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan untuk menyelesaikan beberapa proyek kerja.

Baca Juga :   Harga Gabah Jeblok dan Manfaat Kartu Petani Mandiri

Selanjutnya untuk menjalankan kepemimpinan ini dibutuhkan keberanian, kejujuran, kreativitas, keadilan, kecerdasan dan kompetensi. Satu hal lagi, tipe kepemimpinan demokratis menawarkan komunikasi aktif antara atasan dan bawahan. Inilah yang membuat gaya kepemimpinan ini paling banyak disukai, setidaknya menurut berbagai data statistik

Kembali pada sosok pemimpin Bojonegoro yang ngayomi dan ngopeni ini, kembali mempertegas janji politiknya usai dinyatakan unggul. “Kemenangan ini tentunya pada masa kampanye ada janji politik dan kontrak politik, pertama kami akan bentuk tim transisi yang akan bisa menyimulasikan dan mengharmonisasikan program yang telah kami janjikan kepada masyarakat,” ujar Anna di hadapan awak media, Kamis (28/6/2018). https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4088026/menang-pilbup-anna-janji-ngayomi-dan-ngopeni-warga-bojonegoro

Penulis coba menunggu proses transisi Anna dan Wawan (akrab disapa) selesai untuk melihat dari sudut yang obyektif, senyampang mendengarkan respon warga yang merasakan langsung keseharian selama dipimpin bupati nyentrik ini.

Gagal paham di tingkat pejabat ASN dalam memahami kebijakan bupati, selanjutnya belum bisa move on terhadap proses politik pilkada, unik memang bupati anna ini, sangat detail dan kuat ingatan terlebih pada siapa yang mendukung dan tidak waktu pilkada, sikapnya yang keras membuat ciut nyali bukan pendukungnya dulu, sekaligus terciptakannya antipati terhadap gayanya. 

Seperti gerutu seorang senior sekaligus musisi, kemarin habis kena marah bupati saat pertemuan bersama anggota LSM, “gak usah  demo, nanti tak openi” ucapnya menirukan.

Baca Juga :   Gerakan Pemuda Muhammadiyah

Cerita berbeda disampaikan oleh salah satu pegawai honorer salah satu dinas, yang menyatakan memang baru baru ini ada tenaga honorer baru yang dulunya ikut membantu pemenangan dalam pilkada. 

Serapan belanja anggaran yang masih minim prosesentasenya menjadi bumbu tambahan yang nyaring disuarakan, penanganan dampak kekeringan, sumbangan kematian, pelaksanaan kartu petani mandiri yang belum dirasakan dampaknya oleh masyarakat, mutasi jabatan mulai dari tingkat desa sampai eselon yang belum tuntas. 

Dan yang terakhir plesir bupati ke Inggris menjadi polemik dan antiklimaks masyarakat mempertanyakan kinerja bupati dan wakil bupati.

Prediksi penulis salah, bahwa sepulang dari lawatannya Bupati Anna akan mengubah sikapnya akibat “dirasani” oleh rakyatnya sendiri. Menjawab dengan mengancam banyak kawan yang mencoba mengkritisi berbau menghujat atas kebijakannya, adalah gaya Bupati Anna.

Masih banyak cerita dari warga masyarakat melihat perilaku bupatinya nyentrik, harapan penulis bupati mau melihat dan mendengar secara utuh konteks persoalan yang terjadi dengan menahan diri untuk melawan rakyatnya sendiri dengan ancaman yang gak penting.

Fokus bekerja untuk Bojonegoro itu yang terpenting. Ingat duitnya masih banyak yang harus ditasyarufkan untuk kesejahteraan warga Bojonegoro sedangkan waktu tinggal enam bulan. Janganlah ngopeni dan ngayomi yang belum perlu dilakukan. Sekian.

Penulis adalah pengurus INDAP – Independent Analyst Politic Bojonegoro. 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *