321 Hektar Tanaman Padi di Blora Terancam Puso

Posko kekeringan Blora

SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno

Blora – Musim kemarau tahun 2019 ini diprediksi mengakibatkan ratusan hektar tanaman pertanian di wilayah Blora, Jawa Tengah, terancam Puso.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti, menyampaikan, berdasarkan hasil identifikasi dan monitoring lapangan, di Kabupaten Blora pada tahun 2019 terdapat potensi kekeringan seluas 2148 hektare, dengan tingkat puso seluas 321 hektare.

“Jumlah tersebut mengalami penurunan jika di banding tahun 2018 dengan kekeringan seluas 3512 hektare dan luasan puso sebesar 561 hektare,” kata Reni Miharti, belum lama ini.

Meskipun mengalami penurunan, pihaknya tetap mengantisipasi hal tersebut. Mengingat akan  berdampak pada luas panen dan total produksi di Kabupaten Blora pada tahun 2019.

“Kami akan tetap petakan semua itu. Sebab, tahun ini luas tanam Kabupaten Blora pada Bulan Oktober 2018 hingga Juni 2019 seluas 103.900 hektare dengan target, 110.000 hektare,” ungkap Reni.

Dia melanjutkan, dalam rangka penanganan mitigasi bencana kekeringan diperlukan posko mitigasi bencana. Posko itu untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, dan banyaknya kekeringan yang terjadi di wilayah Blora.

Baca Juga :   Gugurkan Kandungan Sepasang Sejoli Ditangkap Polisi

Sementara Bupati Blora, Djoko Nugroho, mengatakan, tahun ini kekeringan yang terjadi di Kabupaten Blora tidak separah tahun tahun sebelumnya. Namun demikian, adanya posko kekeringan pada lahan pertanian ini tentu merupakan hal positif yang perlu di lakukan.

Selain Posko Kekeringan pada lahan pertanian, juga ada posko air bersih yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). “Alhamdulillah, Blora sudah berubah. Kekeringan yang terjadi juga tidak separah dua sampai tiga tahun lalu. Di sejumlah wilayah masih ada sumber mata air,” kata bupati.

Bupati meminta, semuanya bisa belajar dan memahami akan prilaku alam yang terjadi saat ini agar bisa diterapkan di pertanian.

“Mungkin saat ini, air masih ada, tahun depan belum tahu, dan saya minta pemahaman ini juga dilakukan dalam pertanian, seperti menanam pada musimnya sehingga tidak terjadi kerugian yang besar,” jelasnya.

Kokok, sapaan akrabnya, juga menjelaskan Kabupaten Blora setiap tahun mampu panen 600 ribu ton beras kering. Hanya 24 persen hasil tersebut dikonsumsi masyarakat Blora dan selebihnya di jual keluar wilayah Blora. Hal ini menandakan Blora disektor pertanian mengalami kemajuan.

Baca Juga :   Ditinggal ke Sawah Supra X Digondol Maling

“Jika dibandingkan dengan daerah lain, Blora sudah semakin baik. Sejumlah embung terbangun, bahkan di sejumlah wilayah juga baru dilakukan pembangunan embung. Paling tidak embung tersebut bermanfaat pada sektor pertanian,” tuturnya.

Bupati berharap posko kekeringan pertanian itu bisa disosialisasikan kepada para petani. Sehingga nantinya dalam menanam, para petani tidak mengalami kerugian yang cukup besar dan bisa tepat pada musimnya.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *