SuaraBanyuurip.com -Â
Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sekarang ini dikenal masyarakat luar daerah bukan lagi sebagai kabupaten yang selalu kebanjiran akibat luapan Sungai Bengawan Solo, kekeringan, banyak pengangguran dan kemiskinan. Melainkan kabupaten yang memiliki sumber daya alam migas yang melimpah.
“Oleh karena itu kita wajib bersykur dengan potensi sumber daya alam di bumi Bojonegoro yang kita cintai ini,” kata Bupati Bojonegoro Anna Muawanah saat membacakan sambutan peringatan Hari Raya Idul Adha 1440 H di Masjid Al Muntaha di Desa Banjarjo, Kecamatan Padangan, Minggu (11/8/2019).Â
Menurut Bu Anna, sapaan akrab Bupati Bojonegoro, pendapatan dari sumber daya alam ini harus dikelola dengan baik. Melalui berbagai terobosan-terobosan untuk memecahkan persoalan di masyarakat sekarang ini. Serta menyiapkan generasi unggul yang siap bersaing menghadapi tantangan zaman.Â
“Secara bertahap, namun pasti kita telah merencanakan penggunaan anggaran dari pendapatan migas dengan cermat dan tepat,” tegas bupati perempuan pertama Bojonegoro itu.
Pendapatan migas tersebut, lanjut Bu Anna, untuk pembangunan sarana dan prasarana. Seperti jalan, jembatan, penerangan jalan, dan lain-lain. Juga bantuan bagi warga kurang mampu, pemberian beasiswa hingga perguruan tinggi, program bagi petani dan program-program lainnya.
“Program-program yang kita berikan ini untuk meningkatkan derajat kesejahteraannya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Bojonegoro sekarang ini menjadi penyumbang terbesar kebutuhan energi di Indonesia. 30% produksi minyak nasional berasal dari Lapangan Minyak Banyu urip, Blok Cepu.
Produksi minyak Blok Cepu sekarang ini sebesar 225 ribu barel per hari (bph) atau  32 juta liter per hari. Produksi tersebut telah memberikan pendapatan besar kepada negara. Jumlahnya mencapai USD 325 – 350 juta per bulan.
“Kalau itu dirupiahkan sebanyak 4.500 miliar atau 4,5 triliun rupiah setiap bulannya. Itu semua masuk ke kas negara,” kata Senior Vice President ExxonMobil, Mohammad Nurdin saat malam Silaturahmi Banyu Urip bertajuk “Kemitraan Sejati Membangun Bojonegoro” di Aston Hotel Bojonegoro, Rabu (24/7/2019) lalu.
Selain memberikan kontribusi kepada penerimaan negara, produksi minyak Banyu Urip juga menjadi penyumbang terbesar APBD Bojonegoro. Tahun 2019 ini, dana bagi hasil (DBH) migas yang diterima mencapai Rp2,9 triliun.  Jumlah tersebut nilainya separuh lebih dari APBD Bojonegoro 2018 sebesar Rp4,6 triliun.
“Biasanya pada triwulan ke empat kita tidak mendapat transferan dana bagi hasil migas, tapi tahun lalu dapat,” ujar Asisten II Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemkab Bojonegoro, Setyo Yuliono.(suko)Â