SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Sebanyak 19 desa dari 419 desa, 11 kelurahan yang tersebar di 28 Kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah berkirim surat kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro untuk mendapat pasokan air bersih. Karena dilanda kekeringan termasuk desa sekitar proyek Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Pertamina EP Cepu (PEPC).
Kekeringan tersebut berdampak pada 79.289 jiwa, 23.058 kepala keluarga (KK), yang tersebar di 120 dusun dan 75 desa.
Sekretaris BPBD Bojonegoro, Nadif Ulfa, mengatakan, terdapat 19 desa di 11 kecamatan yang sudah mengirimkan surat kepada BPBD untuk mendapat pasokan air bersih. Wilayah sekitar proyek JTB yang terdampak diantaranya, Desa Pelem, Kecamatan Purwosari.
Sementara lainnya, Desa Sugihwaras, Luwihaji dan Nganti, Kecamatan Ngraho, Desa Pejok Kecamatan Kepohbaru, Desa Ngeper Kecamatan Padangan, Desa Kedungsari, Bakulan dan Pandantoyo, Kecamatan Temayang.
Desa Baren, Siwalan, Kecamatan Sugihwaras, dan Desa Gamongan Kecamatan Tambakrejo. Kemudian, Desa Sukowati Kecamatan Kapas, Desa Tlogohaji, Sumberharjo dan Kayulemah, Kecamatan Sumberjo, Desa Sambeng dan Kasiman, Kecamatan Kasiman dan Desa Sumberjokidul, Kecamatan Sukosewu.
“Dari daerah yang mengajukan permintaan air bersih sudah terlayani semuanya sesuai jadwal yang telah dibuat BPBD. Rata rata 3-4 dropping air bersih dilakukan di wilayah desa desa tersebut,” jelas Nadif Ulfa, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (26/8/2019).
BPBD di tahun 2019 ini mengalokasikan anggaran Rp200 juta untuk air bersih atau sekira 500 tangki air bersih. Selain itu diterapkan pula sistem tandon di desa terdampak kekeringan sehingga memangkas waktu dan meningkatkan jangkauan titik distribusi.
“Kita biasanya juga dibantu oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama tapi sampai saat ini belum ada laporan dari mereka,” tandasnya.
Kekeringan yang terjadi di Bojonegoro kategorinya masih kering langka dengan jarak sumber kurang lebih 1,5 sampai 3 kilometer.
“Kalau yang kategori kering kritis ini masih jarang terjadi, termasuk kering langka terbatas yang berjarak 0,5 – 1,5 kilometer,†ujarnya.
Kekeringan tersebut diperkirakan semakin meluas, karena sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 2019-2020 musim kemarau akan lebih panjang, sehingga awal musim hujan mengalami kemunduran. Puncak musim hujan pada 2019 sampai 2020 diprediksi akan terjadi pada Bulan Januari-Februari 2020.
“Menghadapi kondisi puncak hujan perlu diwaspadai wilayah yang rentan terhadap bencana yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi yaitu banjir dan tanah longsor,” imbuhnya.Â
Di konfirmasi terpisah terkait hal tersebut, Site Manager JTB Pertamina EP Cepu, Kunadi, belum memberikan jawaban. Pesan pendek yang dikirimkan belum ada balasan.(rien)