SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Air baku dari bengawan solo dinilai tak yalak konsumsi. Mengingat, kepekatan warna air melebihi ambang batas.
Kepala PDAM Blora Cabang Cepu, Muhammad Ali menjelaskan Skala True Colour Unit ( TCU) air baku PDAM Tirta Amerta Blora dari Sungai Bengawan Solo semakin hari semakin meningkat. Pada Jumat (13/9/2019) siang air baku warna mencapai 720 TCU sedangkan pada Sabtu (14/9/2019) pagi, skalanya 1050 TCU.
“Alatnya sampai mentok. Untuk mengetahui hasilnya, harus diukur 3 kali baru bisa dibaca.Ini sudah tidak bisa diolah,” ujar Muhammad Ali, Minggu (15/9/2019) kemarin.
Ditambahkan, buruknya kulitas air baku juga mendapat perhatian dari staf Menko Kelautan dan Kemaritiman, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blora.
Kemarin, Sabtu (14/9/2019), mereka datang ke intake PDAM untuk melihat langsung kondisi Bengawan solo turut Kelurahan Balun Kecamatan Cepu.
Dewi Tedjowati saat dikonfirmasi wartawan, mengungkapkan, saat ini masih dalam pembahasan dengan pihak terkait. Menurut dia, ada rencana akan digelontori air dari waduk gajah mungkur. Akan tetapi kendalanya waduk belum ada airnya.
“Ini baru dibicarakan. Kalau digelontori dari waduk, airnya bisa jalan.Tapi kendalanya waduknya belum ada airnya,” ujar Dewi Tedjowati.
Kondisi air Bengawan Solo diwilayah kelurahan Balun Kecamatan Cepu saat ini berwarna kecoklatan dan sebagian tertutup tumbuhan maskumambang dan enceng gondok. Diantaranya disekitar instalasi PDAM di wilayah Balun Bendo kelurahan Balun.
Untuk mengetahui kandungan apa yang mengakibatkan air Bengawan Solo berwarna coklat, Dinas Lingkungan Hidup provinsi dan kabupaten serta Perusahaan Jasa Tirta pun sudah melakukan uji laboratorium.
“Dari LH provinsi belum turun hasil labnya belum sampai ke kami. Tapi menurut informasi pembahasannya sudah selesai dan baru dikaji terkait kandungan apa saja yang ada di air Bengawan Solo.Jadi belum bisa dipublikasikan,” ujarnya.
Beberapa hari sejak PDAMÂ tidak operasional, pelanggan kesulitan mendapatkan air. Bahkan warga terpaksa membeli air dari tangki dan mengambil air dari sumur.
Susiloningsih pelanggan PDAM, warga Kelurahan Balun mengungkapkan, dirinya terpaksa membeli air bersih dari tangki.
“Mau gimana lagi, air PDAM gak ngalir ya terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satu tangkinya 150 ribu,airnya jernih,” ujarnya.