SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Warga Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyambut baik berdirinya produksi minyak kayu putih kerjasama Perhutani dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumur Agung yang telah memulai aktivitas penyulingan atau produksi sejak seminggu lalu.
“Tentu kami menyambut baik, dan senang adanya produksi minyak kayu putih di Desa Jelu. Karena dapat membuka peluang kerja bagi warga,” kata Sari warga setempat yang menjadi tenaga kerja pilah limbah, kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (13/10/2019).
Wanita berusia 50 tahun ini mengaku, dalam 1000 bongkok ranting kayu putih yang habis disuling yang dikumpulkan di hargai Rp200 ribu. Untuk bisa memperoleh 1000 bongkok limbah kayu putih membutuhkan waktu selama tiga hari. Dalam sehari dua orang dapat mengumpulkan lebih dari 200 bongkok ranting kayu putih.
“Berapapun hasil yang kami dapatkan tak syukuri, Pak. Ada kerjaan ini cukup membantu kami memperolah tambahan penghasilan keluarga selain dari bertani,” ucapnya.
Terpisah Kepala Desa (Kades) Jelu, Guntur, mengatakan, berdirinya produksi minyak kayu putih yang dikelola LMDH Sumur Agung dan Perhutani Bojonegoro kedepan terus berkembang baik dan lancar. Sehingga dapat menambah lagi tenaga kerja warga semakin banyak.
“Mudah-mudahan kedepan produksi minyak kayu putih ini semakin berkembang. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian bagi warga,” imbuh pria yang menjabat dua periode Kades Jelu ini.
Di beritakan sebelumnya, proses produksi, sementara sehari dapat menyuling 7 ton daun kayu putih. Dengan menghasilkan produksi 63 kilo gram (Kg) minyak kayu putih. Sedangkan jumlah tenaga kerja sebanyak 25 orang. Rinciannya 10 orang tenaga produksi yang bekerja siang dan malam. Kemudian 15 orangnya lagi pilah limbah.(sam)