SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, Jawa Tengah, bersama seluruh jajaran menggelar upacara hari anti korupsi sedunia di halaman kantor Sekretariat Daerah (Setda) Blora, Senin (9/12/2019).
Dalam kesempatan tersebut Bupati Blora Djoko Nugroho, secara simbolis menyematkan pin anti korupsi kepada perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Blora.
Bupati Kokok sapaan akrab Djoko Nugroho, dalam sambutanya, mengajak seluruh elemen Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Blora untuk mendukung upaya Gubernur Jawa Tengah (Jateng) dalam memerangi korupsi.
ASN diminta agar bisa menjadi agen perubahan, atau pelopor anti korupsi. Salah satu contoh kecilnya dengan menolak politik uang pada gelaran Pilkada 2020 yang akan datang.
Sebelumnya, Bupati Djoko Nugroho membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang menyatakan bahwa di Jawa Tengah sejak 2013 telah mencanangkan gerakan Mboten Korupsi (Tidak Korupsi), Mboten Ngapusi (Tidak Bohongi). Bukan hanya di lingkungan Pemerintahan Provinsi, tapi juga seluruh pelosok Jawa Tengah.
“Di kalangan pemerintahan, mental pejabat lama kita dobrak, sistem jadul kita rombak. Pungli kita sikat dengan teknologi, setoran kepada atasan kita berantas dengan lelang jabatan, manipulasi anggaran kita semprot dengan digitalisasi, mafia-mafia proyek kita hantam dengan keterbukaan,†ucap Bupati Djoko Nugroho membacakan sambutan Gubernur.
Pertanyaannya, apakah gerakan itu sudah cukup efektif untuk menghilangkan laku koruptif? Ternyata menurutnya “masih jauh panggang dari apiâ€. Masih jauh dari harapan. Tapi, menurut dia, sesakit dan selelah apapun harus terus dilakukan.
“Nasi belum jadi bubur, kayu belum jadi arang. Kita akan terus perkuat upaya pemberantasan korupsi,” ujarnya.
Tahun depan, pihaknya akan jor-joran untuk pembangunan sumber daya manusia, menata manusia-manusia Jawa Tengah yang semakin bermartabat.
Segala cara dilakukan. Pemerintah Kabupaten/ Kota kita ajak, Bupati/ Walikota dikirim ke KPK untuk membangun integritas. Digitalisasi sistem dipersilakan untuk ditiru. Gubernur Jawa Tegah, juga akan perbesar peran mahasiswa dan pelajar dalam gerakan ini.
“Kita lahirkan agen-agen antikorupsi di kalangan mereka. Pendidikan antikorupsi kita terapkan di 634 SMA/SMK/SLB di Jawa Tengah. Ini adalah laku membangun ulang pondasi moral dan mental, maka keberanian harus kita pegang,†tegas Gubernur.
Untuk itu, Gubernur mengajak seluruh masyarakat bersiap melompat lebih jauh. Tempa raga dan sukma, siapkan mental untuk turut andil menyempurnakan bangunan antikorupsi.(ams)