SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Tuban – Pemilik lahan di tiga desa di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sepakat bersikukuh tidak mau menjual lahannya untuk proyek Kilang Tuban. Sikap tersebut disampaikan warga saat menghadiri undangan forum diskusi , Senin (16/12/2019) kemarin, di Ruang Rapat Biro Administrasi Setda Provinsi Jatim Lantai VI Jalan Pahlawan No 110 Surabaya.
Diskusi juga dihadiri pejabat Pertamina yang membidangi proyek Kilang Tuban. Dipimpin Kepala Biro Administrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Indah Wahyuni.
Ada sekitar 20 warga yang diundang. Dari Desa Wadung adalah Sumisih, Wahab, Slamet, dan Sasmito Didik.
Kemudian pemilik lahan dari Desa Pomahan yakni Mulyono, Munasih, Wadiran, Riyanto, dan Muji. Sementara dari Desa Sumurgeneng ada Markat, Darmani, Nandi, Wasian, dan Wantono.
Salah satu pemilik lahan, Sasmito Didik mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut warga diminta untuk menyampaikan aspirasinya.Â
“Kita sampaikan kepada mereka kalau kami tidak akan menjual lahan untuk proyek Kilang Tuban,” ujar Didik, warga Desa Wadung saat dihubungi suarabanyuurip.com melalui telepon genggam, Selasa (17/12/2109).Â
Ia mengemukakan alasan tidak menjual lahan karena tanah tersebut adalah sumber nafkahnya sebagai petani. Dalam setahun tanah di Desa Wadung bisa panen tiga kali.Â
“Tanah ini merupakan harga diri kami. Ibaratnya tanah itu istri. Kita tidak akan memberikan istri kami untuk diganti rugi,” tegas petani yang mengaku memiliki lahan seluas satu hektar terdiri dari dua bidang.Â
Didik berharap Pertamina dan pemerintah tidak membangun Kilang Tuban di lahan produktif, agar warga tetap bisa bertani.
Senada disampaikan Sumisih, warga Wadung lainnya. Ia mengaku tidak mau lagi terkena gusur akibat proyek Kilang Tuban. Sebab, pada kisaran tahun 1984 silam, 150 kepala keluarga (KK), termasuk dirinya, terkena penggusuran proyek pelabuhan kayu yang lahanya sekarang milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
“Sudah cukup sekali kami digusur. Kami tidak mau digusur lagi,” tegasnya.Â
Pertemuan tersebut dimulai dengan paparan Pertamina terkait rencana pembangunan Kilang Tuban. Namun warga langsung berteriak menolak menjual tanah dan membubarkan diri sebagai bukti mereka tetap menolak pembangunan kilang minyak.Â
Bahkan, warga sempat membentangkan banner penolakan di depan Kantor Gubernur Jatim. Banner tersebut diantaranya berisi “Tanah Tidak Dijual”, “Tanah Malati Ora Didol”.
Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Indah Wahyuni saat dikonfirmasi belum memberikan tanggapan. Pesan WahtsApp yang dikirim suarabanyuurip.com pukul 13:27 siang tadi, hingga berita ini diterbitkan belum ada balasan.(suko)