Realisasi Jargas Blora Masuk Tahap Lelang

Bagian Perekonomian Setda Blora

SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno

Blora – Realisasi pembangunan jaringan gas (Jargas) rumah tangga program Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk Kabupaten Blora, Jawa Tengah, segera dilaksanakan tahun 2020 mendatang.

Pihak penanggung jawab program dari Kementerian ESDM, juga telah mengajukan permohonan untuk melakukan rapat bersama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora bersama stakeholder tekait.

“Informasi yang kami terima, sekarang sudah masuk tahapan lelang. Mungkin karena alasan untuk percepatan, mereka ingin melakukan rapat bersama,” jelas Staf Bagian Perekonomian Setda Blora, Tulus Prasetyo, Sabtu (21/12/2019).

Pria ramah ini menyampaikan, surat permononan itu sudah disampaikan kepada Bupati Blora.

“Tapi sampai sekarang belum ada jawaban,” ujarnya.

Adapun wilayah Kabupaten Blora yang mendapat jatah jaringan gas rumah tangga tahap kedua ini, berada di Kecamatan Kradenan. Diantanya, Desa Mendenrejo sebanyak 2.659 Sambungan Rumah (SR), Desa Medalem sebanyak 818 SR, dan Desa Nglungger sebanyak 541 SR.

“Jadi total sebanyak 4.018 SR,” tandasnya.

Semula, Jargas tersebut rencananya  dialokasikan untuk wilayah Kecamatan Cepu. Dengan jatah sebanyak 4.000 SR. Yang dibagi menjadi dua kelurahan. Yakni Kelurahan Balun sebanyak 2.000 SR dan di Kelurahan Cepu sebanyak 2.000 SR. Bahkan, sebagian besar sudah dilakukan survei oleh pihak rekanan Kementerian ESDM.

Baca Juga :   Aktivitas Tiung Biru Kembali Normal

Karena lokasinya terlalu jauh dari sumber gas yang berada di lapangan Blok Gundih, Desa Sumber, Kecamatan Kradenan. Sehingga harus dipindah ke wilayah Kecamatan Kradenan yang lebih dekat dengan sumber gas.

Sekadar diketahui, gas alam yang rencana dialirkan ke rumah tangga, berasal dari fasilitas Central Processing Plant (CPP) Gundih Pertamina EP Asset 4 Field Cepu. Dengan jatah gas sebesar 0,5 mmscfd, mampu memenuhi gas sebanyak 4.000 SR.

Sementara, sekarang ini jargas dari program yang sama yang dibangun tahun 2013 lalu,  juga masih belum optimal. Dari 4000 SR, sekira lebih dari 600 SR baru beroperasi. Itu pun baru di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan.

Sedangkan jargas tersebut menyebar di Kecamatan Kedungtuban, dan Kecamatan Cepu.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *