Musim Hujan Berkah Bagi Pemburu Kelabang

Jiyo tangkap kelabang

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Musim penghujan ternyata membawa berkah tersendiri bagi sebagian warga sekitar Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB). Selain petani bisa mengolah lahan pertanian juga berkah bagi pemburu Kelabang atau Lipan.

Hewan yang dikenal berbisa ini memang banyak ditemukan ketika memasuki musim penghujan. Salah satu pemburu lipan adalah Jiyo warga Desa Tlatah, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Jiyo mengaku, setiap hari mulai pagi hingga sore menyusuri pematang sawah dan semak semak di hutan sekitar proyek Gas JTB untuk mencari Kelabang. Pekerjaan yang tergolong berbahaya ini dilakukan sudah hampir selama empat tahun, dan hanya pada musim hujan.

Karena di musim hujan kelabang banyak yang keluar dari sarangnya. Baik dari sela tanah, tumpukan daun, ranting, dan kulit kayu yang sudah lapuk. Sedangkan dimusim kemarau memilih berburu keroto telur Rangrang atau Kerangkang. 

“Tidak cuman kelabang saja, kala jengking juga saya tangkap,” kata Jiyo, kepada Suarabanyuurip.com.

Pria 50 tahun ini mengaku, sudah terbiasa terkena sengatan binatang yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas dalam tubuhnya. Meski menyebabkan bengkak dan nyeri namun rasa sakit tak dihiraukan.

Baca Juga :   Berkah Natal dan Tahun Baru, Penjualan Kue Tart di Bojonegoro Meningkat

“Alat yang saya gunakan nangkap kelabang cukup sederhana, yaitu sumpit yang terbuat dari kayu dan gunting untuk motong gigi kelabang,” ujarnya.

Sebagai wadah untuk hasil buruannya, Jiyo cukup menggunakan kaleng berisi air dan botol plastik. Kaleng yang berisi air untuk wadah kala jengking agar cepat mati. Sedangkan botol yang tidak terisi air untuk wadah kelabang dalam kondisi hidup.

“Jual kelabang hidup tidak mati, di botol tidak akan membunuh kelabang lainnya karena giginya sudah terpotong. Untuk kala jengking dijual dalam kondisi mati,” tutur pria berkulit sawo matang ini.

Harga jual satu kelabang di pengepul turun yang semula Rp3000 sekarang tinggal dihargai Rp2000. Sedangkan untuk satu binatang kala jengking dihargai 200 rupiah. Dalam sehari berburu, kelabang yang dikumpulkan tidak mesti. Kadang dapat 40 sampai 50 ekor lipan. Untuk kala jengking bisa sampai 300 ekor kala jengking.

Rata rata tiap hari dapat mengumpulkan 40 ekor kelabang, dan hasil penjualan yang diraup rata rata Rp80.000 per hari.

Baca Juga :   Bupati Bojonegoro Terima Penghargaan Halal Metric UB 2026

“Berapapun hasilnya, saya syukuri saja. Karena mau bertani juga tidak punya lahan pertanian. Jadi pekerjaan sebagai pemburu kelabang tetap saya tekuni untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ucapnya.

Di singgung binatang yang memiliki nama ilmiah Centipede ini, oleh pengepul dijual kemana dan untuk apa. Jiyo mengaku tidak tau dari tangan pengepul kelabang kelabang tersebut dijual kemana.

“Hanya saja yang saya dengar dibuat untuk bahan ramuan obat,” pungkas Jiyo sambil menuturkan jika banyak teman untuk berburu lipan, tapi pada memencar sendiri-sendiri.(sam) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *