Banyak Ditemukan Barang Sejarah, Sudah Berpeluang Jadi Desa Wisata

19378

SuaraBanyuurip.com -  Ririn Wedia

Bojonegoro  – Temuan barang-barang bersejarah di Desa Sudah, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menguatkan bahwa daerah tersebut termasuk daerah permukiman tua. Beberapa barang yang ditemukan dan masih disimpan warga diantaranya guci, piring, tenong dan piringan berbahan dasar tembaga. 

Pemerhati Cagar Budaya Kabupaten Bojonegoro, Harry Nugroho menjelaskan, Desa Sudah sebelumnya sudah tertulis dalam Prasasti Canggu di era Kerajaan Majapahit saat masa kepemimpinan Hayam Wuruk antara tahun 1350 – 1389 Masehi. Dalam prasasti tersebut Sudah masuk salah satu pelabuhan Sungai Bengawan Solo. 

“Selain temuan artefak, di Desa Sudah juga memiliki ciri tanaman pohon tua seperti asem dan solobin atau trembesi,” ujar Harry Nugroho kepada suarabanyuurip.com, Selasa (21/1/2020).

Adanya pelabuhan tua di Desa Sudah, kawasan tersebut diperkirakan menjadi pusat keramaian pada masa itu. Hanya saja, kata pria berusia 55 tahun itu, sekarang masih sulit dicari titik pelabuhan karena abrasi Bengawan Solo selama ratusan tahun.

“Juga lahannya sudah banyak beralih menjadi lahan pertanian maupun permukiman, sehingga sulit untuk melacaknya,” tuturnya.

Baca Juga :   Warga Mojodelik Gelar Sedekah Bumi di Tengah Pandemi

Dari bentuk corak ukiran dalam guci keramik, piring dan tenong yang ditemukan warga, menurut Harry Nugroho, kuat dugaan pemiliknya memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. 

Keterkaitan Desa Sudah dengan Kerajaan Majapahit diperkuat pemburu emas oleh orang-orang dari luar Bojonegoro di Bengawan Solo di wilayah setempat. Warga juga banyak yang menemukan perhiasan emas.

“Temuan itu merupakan hasil niaga yang di barter dengan hasil bumi. Wilayah sekitar Bengawan ini dulunya juga banyak digunakan sebagai tempat untuk mencari emas,” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pelayanan Pemerintah Desa Sudah, Abdul Karim mengungkapkan dengan adanya temuan-temuan benda sejarah itu, Desa Sudah memiliki potensi wisata edukasi. Karena itu, pihaknya berencana memberikan pemahaman kepada warga agar menyimpan barang-barang sejarah yang ditemukan sebagai bukti.

“Jika temuan itu sudah terkumpul bisa menjadi wisata edukasi dengan mendirikan museum di desa. Sehingga perputaran ekonomi masyarakat sekitar juga terangkat,” pungkasnya. (rien)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *