SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Sedikitnya 50 kepala keluarga (KK) di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak bisa mendaptkan akses air bersih akibat tanah longsor. Saluran Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di wilayah setempat terputus akibat bencana tersebut.Â
“Ada 50 an KK yang setiap hari memanfaatkan saluran air dari situ,” kata Kepla Desa Wonocolo, Jasmin dihubungi suarabanyuurip.com, Rabu (29/1/2020).
Tanah longsor di desa ring satu Lapangan Minyak Tradisional-Wonocolo- terjadi di bahu jalan poros umum kecamatan (PUK) yang menghubungkan Kedewan – Kasiman. Tepatnya di RT 001/RW 002 Desa Wonocolo.Â
“Kejadiannya kemarin waktu hujan deras, tanahnya tiba-tiba ambles,” ucapnya.
Jasmin berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) segera melakukan penanganan. Jika tidak dikhawatirkan kondisinya semakin parah dan merusak jalan.Â
“Ini darurat, tidak bisa ditunda, harus segera ditangani. Apalagi sekarang musim penghujan,” tegasnya.Â
Data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Bojonegoro, dimensi longsoran sepanjang 20 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 3,5 meter.Â
Akibat bencana tersebut jalan hotmix antar kecamatan mengalami keretakan. Saluran Pam Simas terputus dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Ini berpotensi terjadi longsor susulan dan bisa mengakibatkan rumah di bawah tebing terdampak,” sambung Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Umar Ghoni melalui siaran persnya yang dikirim Rabu (29/1/2020).
Dari hasil kajian cepat yang dilakukan, lanjut dia, penyebab longsornya bahu jalan akibat hujan dengan intensitas deras yang melanda wilayah Kecamatan Kedewan pada Selasa (28/1/2019). Selain itu Kemiringan tebing yang curam dan memiliki jenis tanah batuan berpasir sehingga jenuh air.
Penyebab lain, jurangnya drainase sehingga bila turun hujan dengan intensitas deras air langsung masuk ke tanah dan menggerus lapisan tanah.
“Tananaman di sekitar tebing juga kurang,” ucap Umar. Â
Menurutnya, kebutuhan mendesak yang harus dilaksanakan adalah penguatan tebing dengan bronjong diisi batu, batu urukan jalan, pemasangan rambu peringatan rawan longsor, penambahan vegetasi sekitar tebing, dan membuat saluran pembuangan air di sekitaran tebing.
“Kami humbau masyaraakat tidak mendekati titik lokasi karena berpotensi terjadi longsoran susulan,” pesannya. Â
Ditambahkan, pihak desa telah melakukan perbaikan sementara untuk Pam Simas dan jalan dengan memberikan bambu serta mengganjal dengan batu-batuan.(suko)