SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Jakarta – Bencana alam berupa banjir telah melanda sebagian wilayah di Indonesia dalam setiap tahunnya tentu sangat meresahkan masyarakat yang terdampak. Satu diantaranya adalah wilayah Ibu kota Jakarta, dan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tak sedikit rupiah dianggarkan pemerintah guna membantu meringankan beban yang dialami oleh mereka yang terdampak amukan alam.
Kejadian bencana alam tersebut mematik reaksi Co-Founder Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) dan Ketua Bidang ESDM Rumah Millennials, Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc angkat bicara.
Menurut Hangga begitu Satya Hangga Yudha Widya Putra karib disapa, banjir yang sering melanda di wilayah Jabodetabek salah satunya yang terjadi di Jakarta pada hari Selasa 25 Februari 2020 disebabkan karena cuaca ekstrem yang erat kaitannya dengan pemanasan global dan perubahan iklim serta drainase atau saluran air yang tidak maksimal.
Selain itu faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan banjir di Jakarta adalah akibat pengambilan air tanah yang cukup banyak yang menyebabkan permukaan tanah semakin menurun di bawah permukaan laut. Banjir juga disebabkan oleh banyak tempat pembuangan saluran air yang tersumbat karena perilaku masyarakat dan juga industri yang sering membuang limbah dan kotoran ke sungai.
Dampaknya banyak aktivitas ekonomi yang terpaksa harus berhenti selama bencana banjir terjadi. Banjir juga menyebabkan kerugian di sarana infrastruktur dan mendatangkan banyak potensi penyakit seperti malaria.
Pria ramah ini menyarankan, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk menangani banjir yang sering terjadi di Ibu Kota kita. Pertama, di hulu perlu ada sumur resapan yang dapat menahan air dengan memperhatikan kapasitas air dengan waduk dan kolam retensi.
Kalau setiap rumah tangga bisa menahan air hujan sebanyak 1 sampai dengan 2 meter kubik banyak sekali aliran tengah yang bisa tertahan. Kedua, di hilir harus dapat mempercepat laju air hingga ke laut dengan menggalakkan normalisasi dan dengan membangun sodetan.
“Insya Allah dengan cara itu setidaknya dapat meminimalisir terjadinya bencana banjir,” kata Hangga, kepada Suarabanyuurip.com, melalui pesan WhatsApp, Jumat (6/3/2020).
Sementara di wilayah Kabupaten Bojonegoro, selain dari saluran air yang kurang lancar, juga adanya hutan yang gundul. Mengingat wilayah Bojonegoro hampir keseluruhan dikeliling oleh hutan dan pengunungan, sehingga perlu menjaga kelestarian hutan secara baik.
“Kalau lingkungan hutannya terjaga dengan baik, selain dapat mengurangi banjir juga sumber air pun akan terjaga dengan baik. Sehingga jika musim kemarau tidak terjadi bencana kekeringan,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Bojonegoro merupakan salah satu daerah yang memiliki sumber minyak dan gas bumi (Migas) yang dikelola oleh perusahaan ternama. Seperti Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu yang di operatori oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang dikelola oleh Pertamina EP Cepu (PEPC), dan Lapangan migas Sukowati yang dikelola oleh Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field.
“Ketiga perusahaan ini perlu juga ikut andil dalam pencegahan terjadinya bencana banjir. Tidak hanya melakukan penanaman pohon saja tapi juga perbaikan saluran air sekitar wilayah kerja masing masing dengan baik. Agar air bisa mengalir lancar,” pungkasnya.(sam)