SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro, Jawa Timur, tahun 2020 ini terancam terjun bebas. Penyebabnya, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan.
Menurut Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri, harga minyak mentah dunia sekarang ini turun hingga USD35 per barel dari sebelumnya USD52 per barel. Sedangkan di sisi lain, besarnya APBD Bojonegoro selama ini – tahun 2019 sebesar Rp7,1 triliun, setengahnya berasal dari pendapatan dana bagi hasil (DBH) migas.
“Bisa jadi APBD Bojonegoro tahun ini terjun bebas karena pengaruh harga minyak mentah dunia yang turun drastis,” kata anggota Komisi B, Lasuri, Selasa (10/3/2020).Â
Diungkapkan, turunya harga minyak dunia akibat perang pasar dunia yang oleh strategi Arab Saudi untuk membanjiri pasar dengan minyak mentah demi merebut kembali pangsa pasar. Sehingga bisa mempengaruhi pendapatan DBH Migas yang diterima Pemkab Bojonegoro, sebagai daerah penghasil migas.
“DBH Migas kita tahun ini Rp985 miliar, dengan turunnya harga minyak mentah dunia otomatis mempengaruhi DBH migas yang akan diterima,” tegas politisi PAN itu.
Komisi dewan yang membidangi masalah migas itu berharap keuangan Bojonegoro tidak seperti tahun 2014 silam. Target DBH Migas tidak terpenuhi sehingga mengalami gagal bayar dan pelaksanaan pembangunan banyak yang tertunda.Â
“Kita doakan saja tidak seperti dulu,” pungkasnya. Â
Sementara itu dilansir dari website resmi Kementerian ESDM, berdasarkan hasil perhitungan Formula ICP, rata-rata ICP minyak mentah Indonesia pada bulan Februari 2020 berada di harga USD 56,61 per barel. Harga tersebut turun dibanding ICP Januari 2020 mencapai USD 65,38 per barel. Artinya ICP mengalami penurunan sebesar USD 8,77 per barel.Â
Disamping itu, menurut Tim Harga Minyak Indonesia harga ICP SLC pada Februari 2020 juga mengalami penurunan sebesar USD 8,59 per barel, sehingga harganya menjadi USD 57,18 per barel.
Turunnya harga ICP dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, penurunan permintaan minyak mentah global yang menyebabkan turunnya harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional.
Kedua penyebaran virus COVID-19 di berbagai negara di dunia mengakibatkan kekhawatiran atas kondisi ekonomi global dan penurunan permintaan minyak mentah. Untuk kawasan Asia Pasifik, penyebaran virus COVID-19 mengakibatkan tidak beroperasinya transportasi umum dan rendahnya aktivitas ekonomi di negara tersebut sehingga permintaan minyak mentah menjadi rendah. Selain itu, penurunan harga juga dipengaruhi dari melambatnya pertumbuhan ekonomi India.
Ketiga penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada Februari 2020 juga disebabkan oleh sentimen negatif pasar atas ketidakpastian sikap Rusia terhadap rencana OPEC+ untuk melakukan tambahan pemotongan produksi minyak mentah sebesar 600.000 barel per hari.(rien)