Proyek Gas JTB Masuk Empat Proyek Strategis Nasional

19721

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 56 tahun 2018 menetapkan proyek pengembangan minyak dan gas bumi (Migas) Jambaran-Tiung Biru (JTB) menjadi salah satu dari empat proyek strategis nasional disektor migas.

Proyek pengembangan Gas Lapangan Unitisasi JTB secara keseluruhan bernilai US$ 1,53 miliar dan diperkirakan akan onstream Agustus 2021. Proyek JTB ini merupakan salah satu penyumbang produksi nasional. Proyek-proyek hulu migas yang akan mendukung peningkatan produksi mendapat perhatian khusus dari Presiden RI.

“Pada Rapat Terbatas 4 Maret 2020 dengan salah satu agenda peningkatan produksi migas nasional, Presiden Joko Widodo telah meminta proyek strategis nasional dapat segera diselesaikan,” ujar Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto, Rabu (11/3/2020).

Untuk itu, SKK Migas akan meningkatkan pengawasan agar proyek strategis nasional sektor migas dapat selesai pada waktu yang telah ditetapkan, bahkan jika memungkinkan bisa dipercepat. Bentuk pengawasan akan ditunjukkan SKK Migas melalui kunjungan lapangan oleh manajemen setiap akhir pekan.

“Langkah ini untuk memastikan agar proyek dapat selesai sesuai jadwal dan biaya yang efisien. Serta memberikan kontribusi yang besar pada tambahan gas nasional,” ungkapnya saat melakukan kegiatan Management Work Through (MWT) di proyek strategis nasional, JTB di Kabupaten Bojonegoro, 7 Maret 2020.

Dwi Soetjipto menambahkan, selama pelaksanaan proyek JTB telah memberikan dampak positif bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat lokal. Berdasarkan data SKK Migas, per Februari 2020, proyek yang dioperatori Pertamina EP Cepu (PEPC) itu sudah menyerap tenaga kerja sekitar 4.470 orang.

Baca Juga :   Presiden Jokowi akan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2024 di Blok Migas Rokan

Adapun dalam rangka mendukung ekonomi daerah dan peningkatan kapasitas pengusaha lokal, SKK Migas telah mewajibkan pengadaan barang dan jasa bernilai sampai Rp 10 miliar agar dilaksanakan oleh pengusaha daerah, sehingga pengusaha lokal memiliki kesempatan untuk berkembang dan menciptakan lapangan kerja.

Direktur Utama PEPC, Jamsaton Nababan, saat presentasi menyampaikan, bahwa proyek JTB memiliki tantangan yang sangat besar karena sebelumnya kontraktor yang membangun Engineering Procuremen and Construction (EPC) mengundurkan diri. Sehingga aktivitas proyek sempat terhenti beberapa bulan.

“Terima kasih kepada SKK Migas yang telah membantu melewati masa sulit tersebut, sehingga pada akhirnya pembangunan EPC JTB dapat dilanjutkan oleh kontraktor baru yaitu Rekayasa Industri,” katanya.

Untuk mengawal agar proyek berjalan lancar, Pertamina mengintensifkan koordinasi dengan Kontraktor EPC dan menempatkan inspektur pengawas di workshop yang dimiliki vendor. “Mekanisme ini untuk mengejar ketertinggalan target, dan proyek tetap dapat dibangun dengan kualitas terbaik dan mendukung kehandalan operasi kilang JTB saat nanti berproduksi,” jelasnya.

Direktur Utama PT Rekayasa Industri (Rekind), Jakub Tarigan, pada laporannya menyampaikan, sejak ditunjuk sebagai kontraktor pembangun EPC, pihaknya telah bekerja keras dan koordinasi yang intensif dengan SKK Migas dan Pertamina, sehingga keterlambatan proyek per Februari 2020 bisa diperpendek hanya 0,66 persen, atau telah ada percepatan sebesar 19,3 persen.

Baca Juga :   Kontraktor Lokal Akan Surati SKK Migas

“Capaian ini luar biasa, ditengah tantangan hujan cukup ekstrem saat ini. Kami sudah siapkan sembilan pompa untuk memastikan maksimal dua jam lokasi proyek sudah kering sehingga aktivitas pekerjaan menjadi normal,” ungkapnya.

Pada kunjungan ke lokasi proyek, hujan mengguyur dengan deras, seluruh kontraktor dan sub kontraktor menunjukkan kesigapannya dengan melakukan perubahan sistem sehingga pekerjaan dapat terus dilakukan dan seluruh SDM proyek dapat diutilisasi.

Menutup kunjungan kerja tersebut, Kepala SKK Migas menyampaikan apresiasi atas kerja keras dari PEPC dan PT Rekind. Dari empat proyek strategis nasional hulu migas, proyek JTB adalah satu-satunya yang dilaksanakan oleh perusahaan Indonesia yaitu KKKS Pertamina EP Cepu dan Kontraktor EPC GPF PT REKIND. Keduanya adalah perusahaan Merah Putih.

“Keberhasilan proyek JTB akan turut memberikan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Bahwa anak bangsa mampu mengemban tugas besar dan siap pula untuk menorehkan prestasi tingkat dunia,” kata Dwi Soetjipto.

“Mari tunjukkan perusahaan merah putih mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bersiap menjadi pemain hulu migas tingkat global,” pungkas Dwi Soetjipto.

Sekadar diketahui, pada kunjungan kerja tersebut, Kepala SKK Migas didampingi Deputi Operasi Julius Wiratno, Penasehat Ahli Satya W Yudha, Kepala Unit Percepatan Proyek JTB Waras Budi Santosa dan Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa Nurwahidi.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *