Bisnis Online, Cara Mudah Menjala Rupiah di Tengah Wabah

20043

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Bisnis online menjadi salah satu pilihan masyarakat  agar tetap memperoleh pendapatan di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Mereka memanfaatkan teknologi smartphone untuk menjala rupiah.

Seperti dilakukan Nur Kakim. Warga RT/RW 12/02 Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro,  Jawa Timur, itu menjual jambu kristal dan merah secara online. Dalam sehari ia mampu menghabiskan hingga 200 kilo gram (Kg).

Jebleng, panggilan akrabnya, menceritakan menjual jambu kristal dan merah secara online yang dilakukannya sekarang ini bermula dari kerjasa dengan Erik Gunawan, pemilik kebun jambu di Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam, tiga tahun lalu.

“Setip musim jambu saya membeli hasil panennya untuk kemudian dijual lagi. Tapi jualnya langsung, tidak secara online,” ujarnya membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com, Minggu (26/4/2020).

Namun setelah merebaknya pagebluk corona mulai Maret lalu, cara penjualan yang dilakukannya tidak lagi langsung ke pasar-pasar sekitar Bojonegoro. Melainkan memenuhi pesanan secara online dengan sistem minim order.

“Saya melihat peluang pasar secara online. Selain jelas target pasarnya, juga meminimalisir buah, karena penjualan sudah pasti pembelinya,” tuturnya. 

Baca Juga :   Mendag: Sukses Beradaptasi, Bisnis Waralaba Jadi Tuan di Negeri Sendiri

Dengan sistim online ini, Jebleng memberikan pelayanan jemput bola antar sampai rumah atau cash on delivery (COD) di tempat yang sudah disepakati. Penjualan onlinenya diberi nama “OnlinE food Makwid” dengan Nomor Handphone (Hp) : 085645475051/085230220617.

“Yang pesan ada dari lokalan kecamatan Kalitidu, Kota Bojonegoro, Sumberrejo, Padangan, Purwosari, Dander, dan Rembang,” ungkap pria kelahiran 1987 itu.

Jebleng mengaku setiap hari bisa mengantongi pendapatan Rp 150.00 dari hasil menjual jambu kristal dan merah secara online. Harga jambu yang dibeli dari kebun sebesar Rp10.000/Kg, kemudian dijual secara ecer Rp15.000/Kg. 

“Itu sudah termasuk ongkos kirim,” ucapnya.

Sedangkan untuk reseller, Jebleng memberi harga lebih murah. Setiap pembelian di atas 50 Kg dibandrol Rp12.000.

“Biar sama-sama mendapat untung. Sekarang ini saya punya lima reseller,” pungkasnya.

Serupa dilakukan Edy Purnowo, warga Desa Pandantoyo, Kecamatan Temayang. Ia menjual madu murni secara online. 

“Awalnya saya upload satu botol di facebook, ternyata banyak yang tertarik,” ujar Edy dikonfrontir terpisah.

Sekarang ini Edy bisa menjual 20 botol setiap harinya. Setiap botol Madu Perhutani dijual dengan harga Rp150.000 sudah termasuk ongkos kirim untuk wilayah Kabupaten Bojonegoro. Madu tersebut berasal dari Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jatim. 

Baca Juga :   Gurihnya Cuan dari Usaha Keripik Usus, Mas Teguh: Harus Segera Ada Pelatihan Digital Marketing

“Saya juga punya reseller di beberapa kecamatan untuk memudahkan konsumen,” pungkas pegawai Perhutani KPH Bojonegoro itu.(suko)









»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *