SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora - Penghasilan penambang minyak sumur tua di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terancam merosot. Ongkos angkat angkut yang diterima mereka hanya sebesar Rp500 per liter apabila harga minyak dunia rata-rata $12 perbarel.
“Yang akan diterima Penambang kisaran hanya Rp500 perliter,” ujar Pengawas Produksi Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba (PPMST) Ledok, Suprihantono.
Namun dia bersukur, harga minyak dunia mulai beranjak naik. Hingga sekarang ini, rata-rata $20 perbarel. Namun begitu, penambang belum bisa bernafas lega. Sebab, dengan rata-harga sekian, penambang hanya bisa menerima ongkos angkat angkut sebesar Rp600 sampai Rp700.Â
“Ini jelas memberatkan penambang. Mengingat ongkos untuk memproduksikan sumur minyak tua harus mengeluarkan biaya cukup besar,” tuturnya.Â
Biaya tersebut diantaranya untuk biaya bahan bakar, seling timba, ongkos tenaga kerja. Serta kebutuhan untuk mendukung produksi minyak.Â
Meski ongkos angkat angkut rendah, lanjut Suprihantono, penambang ternyata tidak mengurangi aktivitas menimba minyak. Justru dalam kondisi saat ini, produksi mengalami kenaikan signifikan.
Ada selisih 26 ton minyak mentah dari periode yang sama pada bulan sebelumnya antara tanggal 1 sampai 7 awal. Produki minyak dari sumur tua Ledok pada bulan April mencapai 893 ton dari 130 titik sumur yang beroperasi.
“Melihat produksi tersebut, bisa dipastikan produksi mengalami peningkatan hingga akhir bulan,” jelasnya.
Apalagi penambang tidak akan memberhentikan sumur yang mereke kelola. Sebab, sumur akan rusak jika kegiatan berhenti.Â
“Resikonya penambang harus mulai dari nol lagi untuk produksi, karena harus melakukan pengurasan,” tandasnya.
Sehingga dalam kondisi apapun, kata dia, sumur harus tetap beroperasi. Untuk tetap bertahan, lanjut dia, dari BUMD Blora PT Blora Patra Energi (BPE) telah mengajukan batas bawah ongkos angkat angkut minyak sumur tua kepada Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.
“Kalau ada batas atas ongkos angkat angkut, juga seharusnya ada batas bawah. Mengingat harga minyak pernah sampai pada level tinngi sebesar $70 perbarel,” ujarnya.Â
Terpisah, Dirut PT BPE, Christian Prasetya, membenarkan terkait permohonan batas bawah tersebut. Harapannya ongkos angkat dan angkut bisa di atas di atas Rp2.000 perliter.
“Ini perlu dilakukan karena double negatif effect. Harga minyak turun dan wabah covid19,” tandasnya.
Dia berharap, Pertamina memperhatikan masalah tersebut karena mayoritas warga di Ledok bekerja sebagai penambang minyak sumur tua.(ams)