Bisnis Minyak Sumur Tua BBS Lebih Besar Pasak daripada Tiang

20693

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Bisnis minyak sumur tua yang dilakukan PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur, besar pasak daripada tiang. Laba yang diperoleh tahun 2019 sebesar Rp 42,9 miliar, sementara pengeluarannya mencapai  Rp43,6 miliar.

Sedangkan pendapatan dari bisnis sewa perkantoran dan penginapan The Residence di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, sebesar Rp 1,1 miliar.

“Jika dilihat dari laporan keuangan ini, bisnis minyak sumur tua rugi. Kalau rugi ya jangan diteruskan,” ujar Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Parno saat rapat Kebijakan Umum Anggaran dan Priorotas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) P-APBD 2020 bersama PT BBS, Kamis (13/8/2020).

Dari laporan keuangan itu, lanjut Parno, dapat disimpulkan jika biaya pengeluaran dari operasional bisnis sumur minyak tua ditutupi dari pendapatan persewaan the Residence. Artinya yang memberikan keuntungan hanya bisnis persewaan perkantoran dan penginapan di Talok.

“Kalau begini untuk apa bisnis minyak sumur tua diteruskan, lebih baik ditutup saja,” tegas politisi PKB itu.

Baca Juga :   Pemulihan Selesai, CPP Gundih Kembali Beroperasi

Senada disampaikan anggota Komisi B lainnya, Choirul Anam. Menurutnya, lebih baik PT BBS menyerahkan bisnis sumur minyak tua menyerahkan kepada pihak lain.

“Apapun alasannya, bisnis ini merugikan,” tandas politisi PPP itu.

Menanggapi itu, Direktur PT BBS, Thomas Gunawan menjelaskan kedua bisnis tersebut tidak bisa dipisahkan. Artinya, meskipun bisnis sumur minyak tua dihentikan perusahaan akan tetap menanggung biaya operasionalnya.

“Begitu juga sebaliknya. Jika bisnis Residence dihentikan kita juga tetap menanggung biaya operasionalnya. Jadi keduanya saling berkaitan,” jelas Thomas.

Mantan Project Direktur Jambaran-Tiung Biru (JTB) PT Rekayasa Industri itu mengungkapkan produksi minyak sumur tua sekarang ini mengalami penurunan dari 300 berel per hari menjadi 150 barel. 

“April lalu produksi kita bisa mencapai itu. Sekarang tinggal setengahnya,” ucap Thomas.

Menurut dia, turunnya produksi ini disebabkan anjloknya harga minyak dunia akibat pandemi virus corona atu Covid-19. Sehingga berpengaruh terhadap ongkos angkat dan angkut penambang. Dari sebelumnya Rp3.000 turun menjadi sekitar Rp1.000, dan sekarang sudah berangsur naik menjadi Rp 1.800 lebih. 

Baca Juga :   Saatnya Blora Lakukan Judicial Review DBH Migas

“Penambang banyak yang tidak melakukan penambangan karena biaya operasi tidak sesuai dengan ongkos angkat dan angkut,” pungkasnya.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *