Gegara Pandemi Covid-19, Pedapatan Penjual Mamin Sekitar JTB Menurun

20697

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan oleh warga masyarakat hingga pelosok desa. Utamanya dalam usaha pengembangan perekonomian. Warga yang membuka usaha warung makanan minuman (Mamin) ringan sekitar lokasi proyek Gas Processing Facility (GPF) Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya.

Pendapatan mereka menurun drastis karena karyawan proyek Gas JTB kini jarang datang kewarung untuk membeli dagangan yang dijajakan.

Penjual es tebu, Edi Purnomo, mengungkapkan, dampak pandemi Covid-19 memang sangat dirasakan dalam mengembangkan ekonomi. Selain itu sepinya naker berkunjung diwarungnya adanya pengalihan jalur masuk tenaga kerja (naker) yang semula lewat gate 3 kini dilewatkan gate 1 dan gate 2 juga menjadikan faktor turunnya penghasilan yang didapat. Karena warungnya jauh dari lokasi gate 1 dan gate 2.

Sebelum adanya wabah Corona, dan pengalian jalur masuk naker, seminggu mampu menghabiskan tebu 4 kwintal, dengan meraup hasil sehari rata-rata Rp400.000. Sekarang tinggal menghabiskan 1 kwintal tebu seminggu, dan pendapatan yang didapat tinggal Rp150.000 sehari.

Baca Juga :   SKK Migas Monitor Ketat Investigasi

“Hasil yang saya dapat semua itu belum terpotong modal. Sejak habis riyoyo pendapatan yang saya dapat memang turun drastis,” kata Edi Purnomo, ditemui Suarabanyuurip.com di warungnya yang dekat area GPF JTB, Sabtu (15/8/2020).

Warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Tambakrejo ini menjelaskan, sudah sejak akhir tahun 2019 membuka warung mamin disekitar GPF JTB. Meski lesunya hasil yang didapat, tidak menyurutkan niatnya untuk berjualan. Jualan es tebu, kopi, rokok dan lainnya tetap terus dijalankan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga.

“Meski pendapatan menurun, alhamdulillah setiap hari tidak rugi. Mudah-mudahan wabah Covid-19 segera usai, dan jalur masuk naker kembali lewat gate 3. Berapapun hasil yang saya dapat tak syukuri saja, Pak,” sambung Leli, istri Edi Purnomo.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *