SuaraBanyuurip.com – Teguh Budi Utomo
Tuban – Walau pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masih belum hilang dari wilayah Kabupaten Tuban, Jatim, namun tak berpengaruh terhadap tanaman buah Melon di wilayah setempat. Terbukti masih terjadi panen komiditas tersebut di Desa Sembung, Kecamatan Parengan, Selasa (18/08/2020).
Kelompok Petani Bangkit Makmur dari desa tersebut, memanen Melon jenis Pertiwi Anvi bersama Bupati Tuban H Fathul Huda, Dandim 0811/Tuban Letkol Inf Viliala Romadhon, dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Murtaji. Varitas ini ditanam di atas lahan seluas 1,8 hektar dengan jumlah tanaman 19.200 batang, mampu menghasilkan 51 ton.
Selain panen raya melon, Bupati Huda menyerahkan bantuan alat pertanian kepada petani setempat. Bantuan dari Kementrian Pertanian tersebut berupa dua traktor, dan 10 unit alat penyemprot hama.
Bupati Huda mengatakan, pihaknya sangat memahami kondisi warga Tuban yang sebanyak 80 persen berprofesi sebagai petani. Pertanian di Tuban dihadapkan pada masalah biaya produksi mahal terkait akomodasi transportasi pertanian.
Sejak tahun anggaran 2011 Pemkab Tuban berupaya meningkatkan infrastruktur jalan usaha tani. Selain itu di beberapa tempat petani dihadapkan dengan problem ketersediaan sumber air untuk irigasi.
“Pemkab terus berupaya mengoptimalkan tersedianya sumber air tanah, maupun mengalirkan dari sumber air terdekat,” kata Bupati Huda.
Ia mengajak petani berinovasi mengembangkan pertanian dengan tidak hanya menanam padi dan jagung. Potensi pertanian dapat dimaksimalkan dengan menanam holtikultura maupun tanaman lainnya, seperti melon, jeruk, kelengkeng, alpukat maupun porang.
“Saat ini Pemkab tengah berupaya menyediakan lahan seluas 100 hektar untuk budidaya tanaman porang dari Kementerian Pertanian RI,” pria asal Montong.
Bupati Tuban dua periode ini mengungkapkan, rasa bangga terhadap keberhasilan bidang pertanian meski di tengah pandemi Covid-19. Produktivitas padi dan jagung tiap tahunnya meningkat, walaupun luas lahan tanam mengalami penurunan.
Sedangkan Murtadji mengatakan, Melon yang dipanen di Sembung, Parengan ini terdiri dari tiga grade yaitu A, B, dan C.
“Melon dengan Grade A menjadi kualitas terbaik, dijual ke luar daerah hingga ke luar pulau Jawa,” ujar Murtaji.
Ketua Kelompok Petani Bangkit Makmur Parengan, Suwarno, mengatakan, sebanyak 90 persen dari 19.200 tanaman Melon tumbuh sehat, dan tidak dimakan hama. Hasil panen melon kali ini diperkirakan 80 persen atau sekitar 41.472 kilogram memiliki grade A. Sedangkan grade B sebanyak 7.776 kilogram, dan selebihnya 2.592 kilogram.
Total biaya yang dikeluarkan untuk budidaya tanaman Melon kali ini mencapai Rp172 juta. Biaya tersebut sudah termasuk sewa lahan dan perawatan melon. Diperkirakan panen melon mencapai 51 ton dengan rata-rata beratnya 2 kilogram per buah.
Sedangkan harga jualnya cenderung mudah berubah, saat ini berkisar Rp5.000-7.000Â per kilogram. Setelah dikalkulasi pendapatan kotor dikurangi biaya produksi, masih bisa meraih untung sekitar Rp57 juta untuk harga Rp5.000 perkilogram, dan sekitar Rp149 juta jika harga jualnya Rp7.000 per kilogram. (tbu)