Mbah Abdullah, Sosok Penyebar Islam yang Dihormati Warga Sambiroto

20806

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro – Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, ring satu lapangan migas Sukowati, Blok Tuban, ternyata punya sejarah panjang yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Bojonegoro, Jawa Timur. Di desa ini, menurut cerita, ada sosok yang dipercaya ikut menyebarkan Islam di Sambiroto dan sekitarnya.

Dalam bahasa jawa, Sambiroto memiliki makna disambi ngratakne agomo. Yakni menyebarkan agama di seluruh penjuru wilayah, terutama Bojonegoro. Sosok legendaris yang dipercaya penyebar Islam tersebut adalah Mbah Abdullah. Makamnya masih terawat di Desa Sambiroto.

Kiai Qomari, keturunan Mbah Abdullah mengatakan, Sambiroto bisa dibilang merupakan titik awal penyebaran Islam/ Selain melakukan penyebaran agama secara lisan. Mbah Abdullah, juga mendirikan beberapa masjid untuk berdakwah. Salah satunya masjid di Desa Sambiroto, yang bernama Masjid Abdullah. 

‘’Dulunya masjid ini, masih berbentuk surau atau langgar. Dan masih terbuat dari kayu jati. Lalu, sekitar pada 1953 barulah dibangun menjadi masjid,’’ kata Kiai Qomari ditemui di Masjid.

Dia mengatakan, tepat di belakang masjid sekitar 300 meter, terdapat makam Mbah Abdullah. Saat ini selalu ada warga takziah, yakni berasal dari Kabupaten Tuban, Jombang, dan Madura. 

Baca Juga :   Meriahnya Tradisi Petik Laut di Pantai Lohgung Lamongan

“Apalagi ketika memperingati hari haul Mbah Abdullah. Pasti, tempat ini akan penuh orang,”  terangnya.

Lelaki asal Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, itu menjelaskan, setiap seminggu sekali juga ada rutinan tahlil. Dan terkadang dalam seminggu sekitar tiga grup jamaah datang untuk berziarah. Konon Mbah Abdullah juga punya jasa atas pendirian Masjid Agung Darussalam.   

‘’Bertepatan dengan pendirian masjid itu. Pada 1825 Mbah Abdullah meninggal,’’ kata pria 43 tahun itu.

Dia juga mengatakan, Mbah Abdullah memiliki dua silsilah dan juga dianggap bersaudara dengan Sunan Kalijaga atau Raden Said. Silsilah yang pertama dari Bupati Tuban yang bernama Wilwatikta.  Sedangkan, silsilah kedua dari Raden Imam Sanusi atau Pangeran Duk Banteng atau Demang Kayunan Tuban. 

‘’Ya, memilik dua silsilan. Namun, lebih mengarah pada Raden Imam Sanusi,’’ katannya. (jk)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *