SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Musim kemarau menyebabkan sejumlah titik sungai tidu di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang biasanya penuh air kini mulai mengering. Akibatnya, tidak bisa difungsikan untuk mengairi sawah petani.
Sudah sejak pertengahan bulan Agustus lalu kondisi sungai yang mengalir hingga wilayah Kecamatan Kalitidu tersebut mengering. Sisa air yang masih ada menggenang sudah tak bisa lagi dialirkan untuk mengairi sawah petani. Sehingga membuat sejumlah petani di wilayah setempat pusing karena kesulitan memanen kacang tanah.
“Biasanya kalau mau manen diairi dulu agar nyabutnya mudah. Karena sungainya sudah mengering jadi pusing, sebab kesulitan nyabut kacang tanah. Jadi harus pakai alat agar biji kacangnya tidak banyak yang tertinggal,” kata salah seorang petani Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Yatin, kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (6/9/2020).
Biasanya saat air sungai bisa dimanfaatkan dalam setengah hari manen mampu memperoleh lima sak ukuran 50 kg, sekarang dapat tiga sak saja sudah bagus.
“Kalau manennya diburuhkan orang secara hitung-hitungan tentunya rugi. Tapi mau bagaimana lagi karena faktor alam ya pasrah saja kita jalani,” ucapnya.
“Untuk harga kacang tanah yang belum kering persisnya berapa saya belum tahu. Tapi baru saja menjual dihargai Rp5000 perkilogramnya,” sambung Nurhadi.(sam)