SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Jawa Timur, telah memetakan daerah kekeringan di wilayahnya. Berdasarkan kajian yang dilakukan terdapat 10.628 kepala keluarga (KK) atau 33.923 jiwa di 54 dusun di 26 desa di 10 Kecamatan berpotensi terdampak kekeringan.
“Kajian yang kita lakukan berdasarkan data tahun 2019. Sebab sesuai data dampak kekeringan yang kita miliki antara tahun 2018 dan 2019 tidak jauh beda,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Nadif Ulfia kepada suarabanyuurip.com saat di Gedung DPRD Bojonegoro, Selasa (8/9/2020).
Dijelaskan, sampai hari ini sudah ada enam desa yang mengajukan dropping air bersih kepada BPBD karena semakin menipisnya ketersediaan air bersih. Sementara sejak tanggal 7 September 2020 kemarin, sudah mendistribusikan air bersih untuk tiga desa di tiga Kecamatan yakni Desa Butoh Kecamatan Ngasem; Desa Ngorogunung, Kecamatan Bubulan; dan Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberejo. Masing masing mendapatkan kiriman 5.000 liter air bersih.
“Kecuali Desa Sumberharjo Kecamatan Sumberejo kita kirim 10.000 liter untuk 7 Rukun Tetangga (RT),” terang Ulfa, panggilan akrabnya.Â
Desa-desa yang mengajukan bantuan air bersih di antaranya Desa Butoh Ngasem, Desa Ngorogunung Bubulan, Desa Sumberharjo Sumberejo, Desa Mulyorejo Tambakrejo dan Desa Ngasem Kecamatan Ngasem.
Di tahun 2020 ini BPBD Bojonegoro menyiapkan kurang lebih 1.000 tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter dalam setiap pengirimannya.
Selain Itu juga ada 36 tandon dengan sistem pinjam pakai yang telah didistribusikan di wilayah desa yang terdampak kekeringan. Â
“Jika nanti kurang kita akan ajukan bantuan ke provinsi dan kerja sama dengan pihak ketiga,” tegasn Ulfa.
BPBD Bojonegoro berharap agar desa terdampak kekeringan untuk membuat laporan kepada BPBD tentang kondisi dilapangan. Â
“Kami minta desa-desa juga bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik,” pesan Ulfa.(suko)