SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Sebanyak 9 desa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai kekeringan dan mengajukan bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro. Rata-rata desa kekeringan berada di wilayah selatan.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Bojonegoro Yudi Hendro mengatakan, sebelumnya ada empat desa yang mengajukan permohonan dropping air bersih. Namun ada tambahan pengajuan 5 desa lagi.
“Sehingga kini menjadi sembilan desa,†katanya.
Sembilan desa itu adalah Desa Sumberharjo, Desa Margoagung Kecamatan Sumberrejo; Desa Butoh, Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem; Desa Ngorogunung, Desa Sumberbendo Kecamatan Bubulan; Desa Mulyorejo, Kecamatan Tambakrejo; dan Desa Sumberjokidul, Kecamatan Sukosewu.
“Untuk desa-desa yang biasanya kekeringan, saat ini kemungkinan masih memiliki cadangan air bersih. Sehingga belum membutuhkan suplai air bersih,’’ katanya Selasa (8/9/2020).
Dia mengatakan, pada 2019 lalu, da 79 desa dari 22 Kecamatan di Bojonegoro yang mengalami kekeringan. Kemungkinan tahun ini akan ada banyak desa yang mengusulkan dropping air bersih kepada BPBD.
“Untuk mengantisipasi krisis air bersih di Kabupaten Bojonegoro, BPBD juga telah menyalurkan tandon air kepada 36 desa yang mengalami kekeringan paling parah,’’ ujar Yudi sapaan akrabnya.
Pemkab Bojonegoro, lanjut dia, melalui BPBD telah menyiapkan sekitar 1.000 tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter, untuk desa yang membutuhkan air bersih. Terutama wilayah yang rawan kekeringan.
“Karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat apabila wilayahnya sudah kesulitan air, agar segera melaporkan kepada kepala desa setempat. Untuk mendapatkan air bersih,†katanya kepada SuaraBanyuurip.com. (jk)