Lailatus Zuriah Penjual Kopi yang Sedang Viral: Saya Membantu Orang Tua

21340

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro -  Akhir-akhir ini sosok Lailatus Zuriah berseliweran di media sosial. Penjual kopi di Dusun Jajar, Desa/Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur viral setelah videonya diunggah oleh seseorang di media sosial sebagai penjual kopi cantik di pelosok desa.

Lailatus Zuriah memang sosok yang ramah. Warung kopi sederhana di dekat persawahan itu, kini ramai pengunjung semenjak video Lailatus Zuriah diunggah di media sosial dan viral. Selain tempatnya nyaman juga menawarkan jajanan khas desa dan kopi tentunya. Siang tadi sekitar 30 pengunjung yang duduk santai menikmati kopi.

“Sebelumnya warung kopi ini sepi. Namun, sekarang pelanggan bertambah ramai,” katanya, Sabtu (7/11/2020).

Perempuan lulusan SMK Negeri 1 Bojonegoro itu mengatakan, pengunjung warung kopinya bertambah karena ada salah satu netizen yang mengunggah gambar maupun video penjual kopi. Namun, Laila tidak meyangka dia akan menjadi perbincangan banyak orang di media sosial.

“Kini sehari bisa menghabiskan 2 kilogram (kg) bubuk kopi. Itu karena pelanggan yang meningkat,” ucap perempuan usia 18 tahun itu.

Baca Juga :   Dibantu Alat, Katering Bu Tatik Berkembang Pesat

Laila sebelumnya sempat bekerja di sebuah kafe, namun hanya bertahan tiga bulan saja. Karena ia lebih memilih membantu berjualan kopi milik ibunya. Alasannya, selain meningkatkan perekonomian keluarga juga bisa selalu dekat dengan orang tuanya.

“Akhirnya, saya memutuskan membantu di warung kopi milik ibu,” katanya ditemui di warung kopi.

Laila dapat meracik kopi belajar dari ibunya yakni Siti Hasanah. Meskipun usianya masih muda, ia tidak merasa malu ketika mengantarkan kopi kepada pembeli. Karena ia sudah membantu berjualan kopi di warung milik ibunya semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Sementara itu Siti Hasanah mengatakan, pengunjung atau pembeli di warung kopi miliknya bertambah. Hingga kini, omzet berjualan kopi dalam sehari mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta sehari.

“Ya, semoga semakin hari terus bertambah pelanggan. Namun, saya akan tetap mempertahankan kesederhanaan warung kopi. Seperti tempat lesehan dari terpal dan mempertahankan ciri khas warung yang terbuat dari bambu,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com. (jk)

Baca Juga :   Sejahterakan Anggota dan Masyarakat

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *