SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Irigasi tetes menjadi salah satu solusi pengairan tanaman palawija. Terutama disaat musim kemarau atau musim kering. Teknologi ini telah populer di daerah-daerah yang kekurangan air.Â
Dengan teknologi tepat guna ini bisa memenuhi kebutuhan air karena bisa mengurangi rembesan air, menghemat pupuk dan meningkatkan kesejahteraan petani lantaran ada peningkatan hasil panen. Selain itu, kerusakan tanaman akibat penyiraman secara manual, bisa diminimalisir.
Metode irigasi tetes adalah pemberian air tanaman secara terus menerus dan penggunaan air yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.Â
“Dengan demikian kehilangan air seperti perkolasi, run off, dan evapotranspirasi bisa diminimalkan, sehinga efisiensinya tinggi,” ujar Dosen Sekolah Tinggi Teknik Ronggolawe (STTR) Cepu, Joko Handoyo.Â
Dijelaskan, sistem irigasi tetes mengalirkan air secara lambat untuk menjaga kelembaban tanah dalam rentang waktu yang diinginkan bagi tanaman.Â
“Pemberian air pada irigasi Tetes dilakukan dengan menggunakan alat aplikasi (applicator, emission device). Yang dapat memberikan air dengan debit yang rendah dan frekuensi yang tinggi (hampir terus- menerus) di sekitar perakaran tanaman,” terangnya.Â
Sehingga irigasi tetes diklasifikasikan sebagai irigasi bertekanan rendah. Tingkat kelembaban tanah pada tingkat yang optimum dapat dipertahankan.Â
“Sistem irigasi tetes sering didesain untuk dioperasikan secara harian minimal 12 jam per hari,” ungkap Joko.
Sistem irigasi tetes ini terapkan di Desa Ngrawoh Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora Jawa Tengah. Yang menjadi tempat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) STTR Cepu. Dimulai bulan Juli 2020 lalu, yang diketuai oleh Joko Handoyo.
Desa tersebut memiliki sumber air bawah tanah yang cukup terbatas. Sehingga dalam rangka memenuhi kebutuhan air untuk irigasi tetes di musim kemarau, memanfaatkan air di daerah aliran Sungai Bengawan Solo.Â
Diperlukan langkah yang tepat untuk penerapan teknologi irigasi tetes. Yakni dengan memanfaatkan instalasi pipa paralon dan selang elastis irigasi secara optimal memberikan kemudahan dalam pengelolaan dan pembagian air lahan yang kering.Â
Diketahui, di desa ini banyak lahan kering dan belum termanfaatkan dengan baik meskipun berada didaerah aliran Bengawan Solo. Perlu kontribusi penerapan teknologi irigasi tetes untuk mengoptimalkan produksi lahan pertanian di musim kemarau.Â
Sementara, dalam penerapannya irigasi tetes memanfaatkan air Bengawan Solo dengan cara memompa air ke penampungan. Lalu masuk ke jaringan pembagi melalui slang irigasi yang terdapat kran dan emitter sebagai alat penetes ke tanaman palawija.Â
“Suplai air pada tanaman secara langsung pada permukaan tanah maupun di dalam tanah melalui tetesan secara sinambung dan perlahan pada tanah di dekat tumbuhan,” kata dia.Â
Joko menuturkan, alat pengeluaran air pada sistem irigasi tetes disebut emiter atau penetes. Setelah keluar dari penetes, air menyebar ke dalam profil tanah secara horizontal maupun vertikal, akibat gaya kapilaritas dan gravitasi.
“Irigasi ini bisa menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes secara pelan-pelan ke akar tanaman. Baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar melalui jaringan katup, pipa dan emiter,” bebernya.
Joko menyampaikan dampak ekonomi dengan menggunakan sistem penyedotan air sungai dan irigasi tetes lebih berdampak Positif. Hal ini terlihat dari berbagai indikator yang digunakan untuk melihat dampak pembangunan proyek irigasi.Â
Dampak positifnya yaitu, sistem irigasi bisa dibuka tutup sehingga sangat memudahkan petani pengguna air serta meningkatkan produktivitas padi dibandingkan petani non irigasi.
Selain itu, sebelum dan sesudah adanya pembangunan air sungai irigasi tetes pertanian terjadi kenaikan pendapatan, hal tersebut juga mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat dibandingkan sebelumnya.
Adapun dampak sosial dengan menggunakan sistem penyedotan air sungai dan irigasi tetes ini, yaitu beralihnya penggunaan air tanah ke air sungai untuk irigasi pertanian dan perkebunan.(ams)