SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Jamu adalah obat tradisional asli Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia dari berbagai generasi percaya akan keamanan dan khasiat dari ramuan jamu gendong. Karena sudah teruji keamanan dan khasiatnya selama berabad-abad untuk dikonsumsi sehari-hari mulai usia praremaja hingga lansia.
Dian Novi Aulia, asal Desa Kunci, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan generasi yang melestarikan keberadaan jamu gendong. Hanya saja, dalam pemasarannya tidak dilakukan dengan cara digendong. Namun dikemas dalam botol praktis, dan ditawarkan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital.
Dara manis berusia 24 tahun ini mengaku, sejak kecil sudah terbiasa mengkonsumsi jamu gendong. Ada varian rasa yang menurutnya bukan hanya segar, tapi terbukti bermanfaat menjaga kesehatan. Beras kencur misalnya, mampu mencegah sakit batuk dan meningkatkan nafsu makan.
Namun sayang, lanjut Dian begitu akrab disapa, dengan perkembangan zaman semakin tahun semakin bertambah modern para mbok jamu gendong jumlahnya makin sedikit. Yang ada sekarang pun sudah pada menua.
“Sekarang sudah jarang yang jual jamu gendong, Mas. Kalaupun ada, kan sudah pada menua. Sayang kan kalau tidak ada generasi muda yang melanjutkan,” katanya kepada Suarabanyuurip.com Selasa (10/11/2020).
Dijelaskan ramuan jamu yang dibuatnya tidak langsung jadi seperti resep yang dicontohkan. Melainkan berkali-kali mengulang sampai menurutnya siap untuk dipasarkan saat pandemi mulai awal Juni 2020.
“Tidak ada tambahan bahan sintetis sedikitpun dalam jamu buatannya. Dicontohkan misalnya kunyit asam, komposisinya terdiri antara lain kunyit, asam jawa, gula jawa, dan air,” ujar Dian yang lulus strata 1 jurusan manajemen marketing Polinema Malang ini.
Cara membuatnyapun juga menggunakan blender yang bersih dan steril, agar aman dikonsumsi. Kunyit yang sudah dikupas dan dicuci bersih, kemudian diblender teeus direbus hingga mendidih. Agar tidak ada kuman dan bakteri dalam kandungan jamunya.
“Ada empat varian yang saya buat, yakni beras kencur, kunyit sirih, kunyit asem dan gepyokan. Semua dalam kemasan botol 250 ml. Ditambah satu produk ice cream jamu berbahan kunyit,” jelasnya.
Kapasitas produksi semua variannya saat ini mencapai 50an botol per hari. Dipasarkan dengan berbagai teknik marketing yang diketahuinya. Mulai dari kuis berhadiah jamu di akun facebook sampai penawaran melalui Instagram miliknya.
“Alhamdulillah pelan-pelan permintaan terus bertambah,” ujarnya.
Terpisah Sekretaris Desa (Sekdes) Kunci, Agus Priyono, mengatakan, sangat bangga dengan apa yang dilakukan Dian di tengah pandemi. Diharapkan apa yang dicapai Dian bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda lainnya.
“Semangat dan kreatifitas Dian semoga menjadi contoh untuk para pemuda Desa Kunci, agar tidak mudah menyerah dalam segala keadaan dan selalu kreatif mencari terobosan baru,” pungkasnya.(fin)