SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, mengungkapkan, selain minyak dan gas bumi (Migas), ada empat perusahaan eksportir terdaftar di Dinas Perdagangan Bojonegoro yang ikut andil dalam kontribusinya terhadap peningkatan kinerja ekspor. Diantaranya, yaitu sarang burung walet.
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bojonegoro, Sukaemi, menuturkan, data semester pertama tahun 2020 ada sejumlah 17 perusahaan di Bojonegoro dari beragam komoditas telah tercatat total nilai ekspor dalam US Dollar sebanyak 24.072.057, atau sekira Rp 393,4 Miliar.
“Dari jumlah tersebut empat perusahaan diantaranya merupakan perusahaan pengekspor komoditas sarang burung walet. Tiga diantaranya mengekspor komoditas Edible Bird’s Nest atau sarang burung yang dapat dimakan dan satu perusahaan mengekspor komoditas berupa produk olahan sarang burung walet dalam bentuk minuman kemasan botol,” tutur Kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro, Sukaemi, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (11/11/2020).
Dikatakan, data yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, Indonesia dan China telah menandatangani Letter of Intent (LOI) untuk pembelian sarang burung walet dari Indonesia senilai 150 juta dollar AS atau sekira Rp 2,2 triliun yang akan dilakukan pada 2021.
Pada periode Januari sampai Agustus 2020, total nilai impor sarang burung walet yang dilakukan China sebesar 275,7 juta dollar AS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 73,7 persen impornya berasal dari Indonesia sebesar 203 juta dollar AS.
“Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai produsen dan pengekspor terbesar sarang burung walet di dunia,” tandasnya.
Pihaknya juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pelaku usaha guna peningkatan nilai ekspor.
“Kami sudah mengundang pelaku usaha dari berbagai jenis komoditas, termasuk didalamnya pelaku usaha ekspor sarang burung walet baik yang sudah maupun yang akan melakukan ekspor,” ungkapnya.
Pihak bea cukai juga telah diundang untuk memfasilitasi sejauh mana tingkat kesulitan ekspor tersebut, dan meliputi apa saja untuk dicarikan solusinya dengan pihak terkait.
“Kita identifikasi apa saja yang menjadi kendala dengan mendengar dari pelaku usaha secara langsung, tentang tingkat kesulitan dan kelancaran misalnya tentang pengiriman, invoice, itu lancar atau tidak. Sehingga pelaku usaha yang di Bojonegoro ini bisa bertaraf Internasional,” pungkasnya. (fin)