Harga Kedelai Terus Naik, Perajin Tahu dan Dindag Bertemu Cari Solusi

21757

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Para perajin tahu di Keluharan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur meminta Pemkab turun tangan meringankan beban mereka.

Hal tersebut disampaikan perajin tahu saat acara pertemuan antara perajin, pemerintah desa ndan Dinas Perindustrian dan Pwrdagangan Bojonegoro, Senin (28/12/2020). Acara digelar di Balai Kelurahan Ledok Kulon.

Harga kedelai akhir-akhir ini melonjak. Sebanya 159 perajin tahu di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Jawa Timur terancam gulung tikar. Hal ini karena harga kedelai mencapai Rp 9.200 per kilogram (kg).

Ketua Paguyuban Perajin Tahu Pranyoto mengatakan, dengan adanya mediasi bersama Dinas Perdagangan (Dindag) Bojonegoro diharapkan bisa mendapatkan titik temu, karena harga kedelai terus mengalami kenaikan. November lalu harga capai Rp 6.500, sedangkan Desember awal harga kedelai sudah mencapai Rp 8.300.

“Dan hari ini, harga bahan baku tersebut sudah mencapai Rp 9.200. Untuk mensiasati hal itu kami memperkecil ukuran tahun, namun harganya masih sama,” katanya, Senin (28/12/2020).

Baca Juga :   Jelang Ramadan, 173 Pemda Belum Tangani Inflasi

Dia mengatakan, jika semua perajin berhenti berproduksi makan akan banyak karyawan yang menganggur. Pranyoto mencontohkan, misalnya setiap pengusaha tahu rata-rata mempunyai empat karyawan sedangkan di Kelurahan Ledok Kulon ada 159 perajin. Sehingga sebanyak 500 karyawan terancam menganggur.

Karena itu, dengan menuliskan permohonan tertulis ini kepada Bupati Bojonegoro untuk mengatasi permasalahan mengenai harga kedelai. Yang pertama kami memohon agar menurunkan harga kedelai, menurunkan harga minyak goreng, dan pengontrolan pemerintah terhadap harga.

“Minyak goreng juga mengalami kenaikan dari Rp 9.000 menjadi Rp 13.000,” katanya ditemui di Kantor Kelurahan Ledok Kulon.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro Moh. Akhmadi mengatakan, akan memfasilitas mengenai tuntutan para perajin tahu mengenai kenaikan harga kedelai ini.

“Yang jelas bagaimana, biar disampaikan dengan tertulis,” katanya.

Dia mengatakan, penyebab kenaikan kedelai karena kondisi di lapangan terutama dampak pandemi Covid-19. Selain itu, penyebabnya karena telah terjadi kekosongan kedelai selama dua hari.

“Stok masih melimpah dan harga naik. Kemungkinan karena kekosongan selama dua hari itu,” ujarnya.(jk)

Baca Juga :   Sumringah, Kelompok Tani Tembakau Bojonegoro dapat Hibah Mesin Perajang

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *