Tiga Menteri Resmikan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora, Warga Sambut Gembira

21810

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Warga Kabupten Blora, Jawa Tengah, menyambut gembira peresmian jembatan Terusan Bojonegoro-Blora, Minggu (3/1/2021). Jembatan sepanjang 220 meter di atas Sungai Bengawan Solo yang menghubungkan dua provinsi ini dibangun dari APBD Kabupaten Bojonegoro tahun 2020 dengan nilai pagu Rp97.632.864.000.

Jembatan diresmikan oleh tiga menteri Republik Indonesia. Yakni, Menteri Sekretariat Negara  (Mensetneg) Pratikno, Menteri PUPR Mochamad Basuki Hadimuljono, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Serta disaksikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah, dan Bupati Blora Djoko Nugroho.

“Kami dua kepala daerah Bojonegoro dan Blora mewakili warga sangat bersyukur setelah jembatan mulai dibangun enam bulan lalu telah selesai dan hari ini resmi dapat dipergunakan,” kata Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah, 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan, bahwa jembatan Terusan Bojonegoro-Blora sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten. Selama ini warga yang hendak menyeberang Sungai Bengawan Solo harus menggunakan perahu sederhana untuk mencapai wilayah sebelah.

“Ini jembatan yang sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten ini, yakni Blora dan Bojonegoro. Hari ini sudah jadi, mudah-mudahan yang beresiko tinggi karena nyeberangnya pakai getek, pakai perahu, besok bisa lewat jembatan ini,” katanya.

Baca Juga :   Realisasikan Gayatri, Wujud Komitmen PEP Sukowati Field Zona 11 untuk Pemberdayaan Masyarakat Bojonegoro

Ganjar juga mengapresiasi kerjasama yang baik antara Pemkab Blora dan Bojonegoro. Selain itu, Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora juga merupakan bukti kerja sama yang baik antara Pemprov Jateng dan Jatim.

Mensetneg Pratikno juga mengapresiasi kerjasama yang baik antara dua wilayah. Baik Kabupaten maupun Provinsi atas terbangunnya jembatan Terusan Bojonegoro – Blora. Pembangunan jembatan ini menegaskan bahwa pelayanan masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama.

“Jembatan ini menghubungkan masyarakat dua kabupaten dan dua provinsi. Kami sangat mengapresiasi hal ini. Dan inisiatif ini perlu dikembangkan pada daerah lain,” kata menteri kelahiran Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro ini.

Pembangunan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora ini, lanjut Pratikno diharapkan dapat mendongkrak pembangunan ekonomi kawasan antara Jateng dan Jatim. Sebab, konektivitas dua daerah sudah tersambung dengan baik.

“Ditambah di Ngloram ada bandara yang bisa menghubungkan daerah-daerah ini dengan daerah lain. Mudah-mudahan akhir tahun Bandara Ngloram bisa beroperasi dan bisa mengakselerasi pembangunan ekonomi di kawasan ini,” tuturnya.

Warga Medalem, Siti Halimah (60) nampak semangat menggandeng cucunya yang masih balita. Bersama puluhan warga lain, Mbah Siti ingin menyaksikan sejarah dalam hidupnya, yakni peresmian Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB).

Baca Juga :   MCL Gandeng BSK Untuk Program Ternak

Sebelum adanya jembatan ini, akses satu-satunya warga untuk menyeberangi sungai terpanjang di Pulau Jawa – Bengawan Solo- yang dalam dan alirannya deras itu selama ini menggunakan perahu. Tiap menyeberang, Mbah Siti mengaku merasa was-was karena angkutan itu memang tidak menjamin keamanan warga.

“Alhamdulillah seneng, saiki nek lewat mpun gampil (sekarang kalau menyeberang sudah mudah). Biasane nyabrang kali nganggo prau (biasanya menyeberang sungai pakai perahu), nggeh wedhi (ya takut),” katanya.

Dia mengaku, pernah melihat perahu yang digunakan angkutan warga menyeberang itu tenggelam. Meski tak ada korban jiwa, namun kenangan itu membuatnya selalu ketakutan.

“Sakniki mpun penak, mboten wedhi (sekarang sudah mudah, tidak takut lagi. Sakniki medal bruk mawon (sekarang lewat jembatan saja). Maturnuwun, seneng banget kalih pemerintah (terimakasih banyak, senang sekali dengan pemerintah,” jelasnya.

Senada disampaikan Tamhadi (60), warga lainnya. Ia mengungkapkan, sejak kakeknya dulu, warga memanfaatkan penyeberangan dengan perahu apabila hendak ke Bojonegoro.

“Karena kalau lewat jembatan jauh, harus memutar. Jadi warga memilih naik perahu. Saya mengalami sejak kecil, ketika ongkosnya masih Rp500, sekarang sudah Rp2.000,” tuturnya.(ams) 


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *