Harga Kedelai Makin Naik, Produsen Tahu Mengadu ke DPRD Bojonegoro

22038

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro – Paguyuban Perajin Tahu Ledok Kulo mengadu ke DPRD Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (9/2/2021) terkait kenaikan harga kedelai. Sebelumnya, harga bahan baku tahu turun selama seminggu. Namun, kini harga kedelai impor kembali naik hingga 9.600 per kilogram (kg).

Ketua Paguyuban Perajin Tahu Pranyoto mengatakan, kedatangan ke kantor DPRD Bojonegoro sudah direncanakan semenjak harga kedelai semakin mengalami kenaikan. Dengan pertemuan itu, kata Pranyoto dapat memberikan solusi untuk menurunkan harga kedelai impor.

“Kami ditemui Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro dan perwakilan dari Dinas Perdagangan Bojonegoro. Kedatangan kami meminta solusi, dengan melonjaknya harga kedelai,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pada 27 Januari 2021 lalu harga kedelai sempat turun Rp 100 yakni sebesar Rp 9.000 per kg menjadi Rp 8.900 per kg. Namun, penurunan harga kedelai hanya bertahan selama seminggu setelah itu kembali naik.

“Naiknya melonjak sebesar Rp 9.600 per kg, karena itu kami datang mengadu ke DPRD Bojonegoro,” kata Pranyoto.

Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi mengatakan, telah menerima pengaduan dari Paguyuban Perajin Tahu Ledok Kulon mengenai kenaikan harga kedelai. Para produsen tahu sangat bergantung pada kedelai impor. Sehingga, naiknya harga kedelai memberatkan para perajin tahu.

Baca Juga :   Wabup Ajak Masyarakat Menjauhi Bahaya Laten Radikalisme

“Pembuatan tahu di Ledok Kulon membutuhkan kedelai 15 ton perhari. Sedangkan, para produsen tahu sangat bergantung pada kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, harga kedelai impor terus mengalami kenaikan semenjak pertengahan 2020 lalu. Sebelumnya, harga kedelai impor Rp 6.000 per kilogram (kg) namun kini menjadi Rp 9.600 per kg. Hal itu, menyebabkan biaya produksi semakin tinggi.

“Namun, jika produsen menaikkan harga tahu akan memberatkan konsumen. Apalagi di tengah krisis ekonomi akibat pandemi covid19,” ungkapnya.

Sally menuturkan, kedelai dari petani lokal pada tiga tahun terakhir semakin menurun karena tingginya biaya produksi tanam. Selain itu, rendahnya harga pada musim jual, menyebabkan para petani lebih memilih menanam pangan jenis lain.

Sedangkan, lanjut Sally, pengaduan dari Paguyuban Perajin Tahu Ledok Kulo akan ditindaklanjuti ke Kementerian Perdagangan dan Perindustrian yang mengatur kebijakan ekspor dan impor untuk menstabilkan harga kedelai impor. Sementara, kebutuhan kedelai untuk perajin tahu harus dipenuhi oleh produksi dari petani lokal.

Baca Juga :   Proyek Blok Cepu Potensi Sumbang Golput

“Dengan cara mendorong kawasan pertanian tanaman kedelai untuk memenuhi kebutuhan kedelai. Tentu dengan harga yang terjangkau,” ungkapnya.(jk)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *