RASAH KECANGKEMAN

22181

                      Oleh : Murtadho

Sruput kopinya dulu… !!!

Mentari beranjak pulang, gelap malam merangkak pelan dan pasti, duduk santai di teras mendengar kyai muda gaya sederhana, menembangkan syair-syair fiqih, tasawuf karya ulama-ulama terdahulu, dengan khas pesantren tentunya. Riwayat keilmuwannya pastinya tidak kaleng-kaleng, penyampaian sangat santay, namun maknanya sangat dalam, mudah dipahami, hal ini dbuktikan dengan jumlah muhibbinnya dijagad media sosial luar biasa, dari berbagai kalangan, dan anda pun sudah paham siapa beliau, salah satu murid kesayangan KH. Maemun Zubaer sarang rembang.

Penulis merasa diingatkan kembali untuk percaya diri, percaya akan rahmatnya ALLAh SWT yang tak terkira, serta tidak gampang percaya dan menggantungkan harapan sesama makhluk, saat beliau menyatakan kurang lebihnya, “Sehebat-hebatnya menteri pertanian kalau petani tidak menanam apa masih bisa dikatakan hebat, artinya ada menteri atau tidak petani tetap menanam, karena memang itu pekerjaannya, jadi kalau demikian siapa yang sebenarnya hebat ?” tanya beliau di chanel youtube salah satu muhibbinnya.

Petani, jawabku singkat, sambil kuhisap dalam-dalam sebatang rokokku.  Sambil iseng kubuka whatsapp chanelku, dan kudapati status seorang sahabat pesan pada BULOG untuk menyetabilkan harga gabah yang lagi tidak menentu akhir-akhir ini. Kucoba cermati isi surat tersebut, ada yang aneh karena Bupati hanya sebagai tembusan saja, kog tidak ikutan bikin perbup ya gumamku, biar sekalian dijadikan dasar tuntutan, sambil tersenyum kecil heheheheh.

Baca Juga :   Impian Menggunung Yang Mulai Sirna

Kenapa bupati tidak sekalian perlu buat Perbup saja untuk menstabilkan harga gabah petani? Karena memang disurat tersebut hanya mencantumkan dasar permohonannya UU, PerPres, Permendag, PerdaGub. Atau memang BULOG sebagai Perusahaan Umum milik Negara hanya bisa diintervensi sampai di tingkat Gubernur ? Padahal kalau dilihat latar belakang personalitinya mulai dari pusat sampai daerah, sanad politiknya musalsal alias nyambung, gumamku.

Artinya, jika bupati tidak punya kewenangan untuk intervensi BULOG, Perbup hanya muspro dan salah alamat saja. Artinya nasib petani dari masa kemasa akan sama saja yakni selalu “terjajah”. Dan “rausah kecangkeman” bupati harus menyejahterakan petani jika, memang regulasinya bupati tidak mempunyai wewenang sama sekali, karena setali tiga uang, peraturan yang dibuat oleh negara untuk melindungi petani sejatinya untuk kesejahteraan tengkulak belaka. 

Makanya, jika harga gabah yang lagi anjlok sebagai pelajaran dan diambil hikmahnya saja, jangan percaya lagi pada janji-janji politik akan menyejahterakan rakyat saat pemilu, karena dalam mengambil kebijakan nantinya tidak bisa berdiri sendiri alias harus melibatkan pejabat lainnya dan belum tentu sejalan dengan janji politik yang disampaikan.

Baca Juga :   Anak Muda Adalah Kunci

Sudahlah jangan merepoti presiden sampai bupatipun untuk ngurusi kesejahteraan rakyat, karena sejatinya mereka tidak akan berani menjamin bahwa rakyatnya akan sejahtera seperti janji politiknya. Gus baha pun pernah menitipkan pesan kurang lebihnya, “Kalau urusan kesejahteran mbok ndak usah laporan sampai presiden, urusan mekanisme terlalu ribet, sedangkan urusan perut tidak bisa dijawab dengan mekanisme birokratif, keburu terlambat.”

Sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya yang berjudul REPUBLIK PETANI, penulis mengharapkan sahabat-sahabat petani harus sadar diri, dan waktunya untuk percaya diri menggali potensinya sendiri, jika kesulitan pupuk buat saja sendiri saja, jika mengandalkan pupuk subsidi, pupuk tersebut sudah hilang dipasaran saat dibutuhkan, demikian juga pemasarannya, bagaimana bisa mengendalikan harga gabah wong masih mengandalkan BULOG, ya tentu saja sahabat petani akan dipermainkan harganya.

Jadi rausah kecangkeman, toh saat pencoblosan saja sudah diganti dengan gocap, sudah saatnya petani bersatu mandiri dan kuat TIDAK BUTUH BULOG dan TENGKULAK, tidak butuh janji partai politik, tidak butuh lagi jargon kampanye calon bupati, karena semuanya Prank. (wallaahu’alambisshowab)

Sruput kopinya lagi aagh… !!! 

Penulis adalah warga Bojonegoro – 352215xxxxxx0002


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *