Wujudkan Budaya Kerja Industri Migas Menuju Zero Loss

22630

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) belum lama ini menyelenggarakan Webinar dengan tajuk Budaya Kerja di Industri Migas. Hadir pada kesempatan itu, HSE Lead Assessor Associate and Coach Soehatman Ramli. 

Dalam materinya dia menjelaskan, hampir seluruh perusahaan-perusahaan migas besar dunia pernah mengalami kecelakaan kerja. Dengan kerugian materi yang tidak sedikit dan juga nyawa dari para pekerjanya. Padahal perusahaan tersebut telah memiliki standar dan budaya kesehatan dan keselamatan kerja  (K3) yang baik.

Menurutnya, kecelakaan masih saja terjadi pada perusahaan migas kelas dunia yang mempunyai standar keselamatan tinggi. Seperti kecelakaan kerja pernah dialami oleh BP Mexico, Piper Alpha, Tanki Cilacap, Exxon Valdes, Lapindo Brantas, LPG Mexico, Chevron Refinery, dan baru-baru ini dialami Pertamina Balongan.

Dia menambahkan, bahwa faktor penyebab kecelakaan ada tiga. Yaitu aspek teknis, manusia dan  manajemen sistem. Ketiganya memerlukan pendekatan secara holistik. 

Hasil analisa kecelakaan di industri migas, bahwa faktor penyebab kecelakaan sebagian besar terjadi disebabkan faktor manusia (85,9%) dengan tindakan yang tidak aman, sisanya aspek teknis (7,32%) dan faktor lainnya. 

Baca Juga :   Tiga Kades Tolak Perpanjangan Kontrak Baru

“Unsur manusia merupakan faktor dominan yang perlu mendapat perhatian dalam program pencegahan kecelakaan,” katanya.

Disampaikan, terdapat tiga pilar keselamatan kerja dalam industri, yaitu engineering (operational safety), management system dan behaviours.   

Sementara, sumber utama kecelakaan adalah kegiatan operasi. Oleh karena itu, upaya keselamatan harus berfokus terhadap seluruh potensi bahaya yang terdapat dalam kegiatan operasi. 

Sistem manajemen mendukung keberhasilan keselamatan dalam operasi yang mencakup berbagai elemen seperti kebijakan, dokumentasi, data control dan lan-lainnya. 

Terakhir kata dia, adalah perilaku manusia yang dalam hal ini pendekatan manusia (human approach). Banyak dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dengan cara pembinaan, pelatihan, kompetensi kerja, supervisi (K3 melalui pengawasan), ergonomi (hubungan manusia dengan alat kerja), membangun kepedulian dan keterlibatan dalam K3, membangun budaya keselamatan serta membagun perlikau aman dalam bekerja. 

Menurut Soehatman pendekatan keselamatan bertujuan untuk mengendalikan unsafe act. Karena kecelakaan dimulai dari perilaku tidak aman. Tercatat dalam Laporan Kinerja tahun 2020 Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyebutkan bahwa total kecelakaan kerja turun dari 205 di tahun 2019 menjadi 156 di tahun 2020 baik dari hulu dan hilir migas yang termasuk kecelakaan ringan, sedang berat dan fatal. 

Baca Juga :   Pertamina EP Tawarkan Program Pengembangan Sorgum

Oleh sebab itu, lanjut dia, adanya SMKM (Sistem Manjemen Keselamatan Migas) merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan. Dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan Keselamatan Migas. Guna terciptanya kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang handal, aman, efisien dan produktif.  Dalam Webinar yang berlangung selama hampir dua jam tersebut, Soehatman menjelaskan bahwa setiap perusahaan harus menerapkan Sistem Manajemen K3. Yang tertuang dalam komitmen perusahaan. 

“Sehingga terbentuklah safety leadership yang akan mengimplementasikan budaya K3 di setiap level pekerjaan mulai Manajer Senior, Pengawas, Supervisor, hingga pekerja untuk mecapai safe behavior sehingga akan tercapai safe operation and zero loss,” ujarnya.(adv/ams)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *