Gairahkan Investasi Hulu Migas, Menteri ESDM Ajukan Insentif Fiskal

22481

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif akan mengajukan insentif fiskal kepada Kementerian Keuangan untuk menggairahkan iklim investasi hulu migas Indonesia. Hulu migas merupakan salah satu industri yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kita sedang menyiapkan satu proposal ke Kementerian Keuangan untuk memberikan keringanan-keringanan fiskal lebih lanjut dan ini akan kita bahas dalam rapat internal dengan Kemenkeu,” papar Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR.

Insentif fiskal ini, antara lain terkait perpajakan untuk wilayah kerja migas yang sedang dikelola kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Usulan ini juga merupakan masukan dari Indonesian Petroleum Association (IPA), terutama terkait pencapaian target produksi minyak 1 juta barel pada tahun 2030. 

“Umumnya mereka mendukung produksi minyak 1 juta barel. Tapi di sisi lain, mereka memberikan masukan bahwa harus ada fiskal term yang bisa memberikan keringanan. Ini yang sedang diupayakan, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kesepakatan diantara kita,” tambahnya.

Menteri ESDM mengungkapkan, kondisi pandemi yang telah berlangsung lebih dari satu tahun mengakibatkan penurunan permintaan migas. Hal ini menyebabkan KKKS mempertimbangkan kembali program-program kerjanya. 

Baca Juga :   Belum Koordinasi dengan Camat

Berdasarkan data Kementerian ESDM, capaian 15 KKKS utama rata-rata di bawah target. Penurunan produksi juga lantaran keadaan sumur-sumur migas yang sudah tua, sehingga lebih banyak menghasilkan air ketimbang migas. 

Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah telah melakukan beberapa upaya. Antara lain melalui skema cost recovery, serta split atau bagi hasil yang lebih menarik. Ini dilakukan setelah melakukan kajian perbandingan dengan negara-negara tetangga.

Kenyataan lainnya adalah beralihnya KKKS besar ke energi terbarukan. Selain itu, sejalan dengan diberikannya insentif, temuan-temuan besar seperti di Brazil, Mexico dan Guyana, membuat KKKS pindah ke negara-negara tersebut. 

“Sebagai ilustrasi, sekarang KKKS besar mengurangi capex untuk investasi besar. Inilah yang harus kita antisipasi,” tegas Arifin.(suko)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *