SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Masjid Miftahul Huda Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak lagi sanggup menampung jama’ah untuk beribadah sholat di dalam masjid. Khususnya saat sholat jum’at. Jama’ah masjid desa penghasil minyak dan gas bumi (Migas) tersebut meluber hingga keluar serambi.
Keadaan tersebut telah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan ini. Tentunya tidak memberikan rasa nyaman jama’ah saat beribadah. Meski relatif tidak mengurangi kekhusyukan jama’ah saat melaksanakan sholat. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Ta’mir Masjid Miftahul Huda Desa Ngampel, Ustadz Samsul Hadi, kepada SuaraBanyuurip.com, Jum’at (25/06/2021).
“Masjid ini luasnya 20 M2 (meter persegi). Berdiri di atas lahan Tanah Kas Desa (TKD), sejak tahun 1985. Dulunya luas tanah sekira 1.200 M2, dapat penambahan lagi 1.700 M2, sehingga total lahan yang tersedia untuk masjid menjadi 2.900 M2. Tapi kami belum ada dana untuk perluasan,” terangnya.
Dijelaskan, keuangan hasil infaq rutin saat ini terkumpul sekira Rp 200 juta. Namun, dana infaq tentu tidak cukup untuk membangun masjid lebih luas. Karena dana infaq tersebut dibutuhkan untuk operasional rutin masjid.
“Jama’ah sholat di sini bukan hanya warga sini saja. Kendati juga para tenaga kerja (Naker) Migas banyak yang berjama’ah kesini. Warga sebenarnya berharap ada perluasan, tapi belum ada dana untuk itu. Kami berharap barangkali ada kontribusi dari Pertamina untuk masjid ini,” ucapnya.
Terpisah, Kepala Desa (Kades) Ngampel, Purwanto mengaku, bahwa warga sudah lama menginginkan perluasan masjid. Bahkan ada yang mengatakan ironi, karena masjid berada di desa penghasil migas tapi belum mendapat kontribusi dari Pertamina. Menanggapi kondisi itu, ia berjanji akan membuat proposal ke Pertamina, agar mendapat dana bantuan untuk perluasan masjid.
Setidaknya, menurut Kades Purwanto, bangunan masjid perlu diperluas sekira 30 M2 lagi. Bahkan tanah yang di belakang masjid telah diawali urug dengan dana pribadinya. Karena itu diharapkan masjid bisa mendapat semacam Corporate Social Responsibility (CSR) dari Pertamina untuk perluasan masjid.
“Biar tidak dikatakan ironi, karena desa penghasil migas tapi masjidnya belum mendapat kontribusi dari migas,” tandas Kades ring 1 Lapangan Migas Sukowati Pad B ini.
Menanggapi harapan warga dan Kades Ngampel, Senior Officer Relation & CID Pertamina Zona 11, Ahmad Setiyadi mengatakan, untuk perluasan masjid disilahkan untuk diajukan proposalnya.
“Nanti akan kita asessment, namun mohon dipahami budget kita yang disetujui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas juga terbatas,” jelas Ahmad Setiyadi, saat dikonfirmasi berkenaan harapan perluasan masjid agar mendapat kontribusi dari Pertamina.
Setiyadi menambahkan, bahwa pihaknya sudah pernah melakukan social mapping pada tahun 2019 salah satunya di Desa Ngampel, dan telah mendapatkan beberapa program rekomendasi yang utamanya bersifat pemberdayaan dalam rangka meningkatkan ekonomi desa.
“Tiap tahun kami mensinkronkan program-program rekomendasi tersebut dengan pemerintah desa, dan untuk tahun 2021 ini, Pemerintah Desa Ngampel memprioritaskan Program Pertanian Organik,” pungkasnya.(fin)